Belajar Sambil Bekerja

Posted in Uncategorized on Agustus 15, 2011 by novaozora

BELAJAR SAMBIL BEKERJA

 

Bagi kebanyakan orang, belajar ditempuh penuh waktu demikian pula dengan bekerja. Jadwal kerja yang padat menyebabkan tak ada waktu tersisa untuk belajar formil. Namun, jika tersedia peluang untuk menempuh bangku kuliah, tidak ada salahnya bekerja sambil belajar. Dengan manajemen waktu yang baik serta beberapa tips, keduanya dapat menghasilkan manfaat maksimal.

Pertama, tentukan dulu komitmen, bahwa studi harus selesai. Dengan demikian, sesibuk apapun di tempat kerja tidak boleh menyurutkan niat untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan demi nilai yang membanggakan.

Kedua, pintar-pintarlah menjaga komunikasi di tempat kerja. Jika jadwal kuliah belum pasti sementara program kerja telah tersusun, diperlukan pengertian dari tempat kerja untuk mengganti shift atau jadwal yang tidak merugikan perkuliahan. Namun, ada kalanya proyek penting di tempat kerja tak dapat ditinggalkan. Untuk itu, aturlah strategi agar mata kuliah yang diambil bervariasi beban kesulitannya. Bacalah silabus atau deskripsi mata kuliah di awal semester agar mata kuliah yang dipilih dapat dikuasai sambil bekerja. Dengan komunikasi yang menawan, rekan kerja pun akan dengan senang hati bekerja sama dan hasilnya pekerjaan kantor Andapun segera terselesaikan.

Ketiga, walau terkenal supel dan berwawasan luas, tidak bijak jika Anda terlalu sering hang-out atau pergi ke club sehabis kerja. Sebaiknya, waktu yang ada harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membaca literature atau bahan-bahan kuliah di minggu-minggu berikutnya. Bayangkan teman-teman lain yang punya waktu lebih banyak sehabis kuliah untuk belajar sementara Anda harus berkutat dengan seabrek laporan dan kejaran deadline di tempat kerja. Oleh karena itu, waktu sepulang kerja adalah waktu emas yang Anda harus jaga untuk belajar. Bersosialisasi dapat tetap dilakukan pada hari Minggu atau pada masa-masa liburan kuliah. Ajaklah rekan kerja untuk berjalan-jalan ke luar kota atau sekedar makan di tempat yang unik. Gunakan kartu mahasiswa Anda untuk mendapatkan harga spesial pelajar.

Keempat, tengoklah peluang untuk karir yang lebih baik setelah lulus. Sambil menelusuri teori-teori perkuliahan, refleksikan sejenak apakah pekerjaan yang Anda lakoni telah menawarkan kestabilan finansial juga tantangan aktualisasi keilmuan. Jika pekerjaan Anda sekarang hanya memenuhi salah satunya, sebaiknya carilah peluang lain sembari Anda memoles kemampuan akademik. Tak jarang tawaran datang sebelum hari wisuda usai. Manfaatkanlah jejaring di kampus, baik sesama mahasiswa maupun dosen yang kerap melibatkan mahasiswa untuk penelitian maupun proyek lepas. Konduite yang baik serta kemampuan yang optimal akan membuat Anda dikenal dan diingat orang.

 

 

11 Tips Bekerja Sambil Belajar

  Rancang kerja anda sebaiknya. Periksa dan catat tarikh akhir (deadline) bagi tugasan pejabat serta pengajian lebih awal dan letakkan ia di tempat yang dapat dilihat.

  Gunakan masa dengan sebaiknya. Anda mungkin boleh membaca atau mendengar semula rakaman kuliah ketika menaiki tren daripada hanya melihat gelagat penumpang lain ketika menunggu untuk tiba ke destinasi.

  Pastikan semuanya dilakukan secara seimbang. Bekerja sambil belajar sememangnya memenatkan. Makan dengan teratur, bersenam, dapatkan rehat secukupnya dan jika berpeluang, teruskan aktiviti sosial anda.

  Jika anda mempunyai masalah untuk menepati tarikh akhir atau tiba-tiba terjadi masalah keluarga dan kerja, beritahu kepada pensyarah anda lebih awal. Mereka juga manusia dan tentu mereka memahami beban anda untuk melakukan dua perkara ini serentak.

  Sentiasa ingatkan diri anda apa kebaikan pengajian yang anda ikuti itu untuk masa depan anda. Dapatkan sebab yang kukuh untuk mengikuti kursus yang anda pilih. Jika alasan atau sebab anda menyambung pengajian itu lemah, ia mampu mengganggu motivasi anda untuk menghadapinya.

  Beritahu ketua atau majikan anda mengenai pengajian anda. Menyambung pengajian menunjukkan anda serius mengenai pembangunan diri sebagai seorang individu.

  Ada ramai penuntut dewasa yang mengikuti pengajian separuh masa. Anda seharusnya melihat ini sebagai peluang untuk mengembangkan jaringan kenalan.

  Wujudkan tempat bekerja yang dapat membuatkan anda berasa selesa. Gunakan apa-apa kaedah yang membantu anda untuk fokus, contohnya jadual, kata-kata semangat yang ditampal di dinding, tulisan dengan pen berwarna-warni, peta minda atau bungaan di meja kerja anda.

  Cari tempoh waktu terbaik untuk anda belajar atau mengulangkaji. Segelintir individu lebih gemar memilih waktu awal pagi.

 

 

 

 

SUMBER  :

 

http://cintadearhaniey.wordpress.com/2007/10/09/11-tip-bekerja-sambil-belajar/

http://risa.blog.binusian.org/2009/02/01/bekerja-sambil-belajar-solusi-jitu-untuk-perkembangan-karir/

www.studentnet.manchester.ac.uk

 

 

Komunikasi yang Baik

Posted in Uncategorized on Agustus 15, 2011 by novaozora

KOMUNIKASI YANG BAIK

 

Komunikasi merupakan terjemahan kata communication yang berarti perhubungan atau perkabaran. Communicate berarti memberitahukan atau berhubungan. Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa latin communicatio dengan kata dasar communis yang berarti sama. Secara terminologis, komunikasi diartikan sebagai pemberitahuan sesuatu (pesan) dari satu pihak ke  pihak lain dengan menggunakan suatu media. Sebagai makhluk sosial, manusia sering berkomunikasi satu sama lain. Namun, komunikasi bukan hanya dilakukan oleh manusia saja, tetapi juga dilakukan oleh makhluk-makhluk yang lainnya. Semut dan lebah dikenal mampu berkomunikasi dengan baik. Bahkan tumbuh-tumbuhanpun sepertinya mampu berkomunikasi.

Komunikasi dilakukan oleh pihak yang memberitahukan (komunikator) kepada pihak penerima (komunikan). Komunikasi efektif tejadi apabila sesuatu (pesan) yang diberitahukan komunikator dapat diterima dengan baik atau sama oleh komunikan, sehingga tidak terjadi salah persepsi.

 

UNSUR UNSUR KOMUNIKASI

Untuk dapat berkomunikasi secara efektif kita perlu memahami unsur-unsur komunikasi, antara lain:

  1. 1.      Komunikator.

Pengirim (sender) yang mengirim pesan kepada komunikan dengan menggunakan media tertentu. Unsur yang sangat berpengaruh dalam komunikasi, karena merupakan awal (sumber) terjadinya suatu komunikasi

  1. 2.      Komunikan.

Penerima (receiver) yang menerima pesan dari komunikator, kemudian memahami, menerjemahkan dan akhirnya memberi respon.

  1. 3.      Media.

Saluran (channel) yang digunakan untuk menyampaikan pesan sebagai sarana berkomunikasi. Berupa bahasa verbal maupun non verbal, wujudnya berupa ucapan, tulisan, gambar, bahasa tubuh, bahasa mesin, sandi dan lain sebagainya.

 

 

  1. 4.      Pesan.

Isi komunikasi berupa pesan (message) yang disampaikan oleh Komunikator kepada Komunikan. Kejelasan pengiriman dan penerimaan pesan sangat berpengaruh terhadap kesinambungan komunikasi.

  1. 5.      Tanggapan.

Merupakan dampak (effect) komunikasi sebagai respon atas penerimaan pesan. Diimplentasikan dalam bentuk umpan balik (feed back) atau tindakan sesuai dengan pesan yang diterima.

 

Banyak manfaat yang dapat peroleh dengan berkomunikasi secara baik dan efektif, di antaranya adalah:

  1. Tersampaikannya gagasan atau pemikiran kepada orang lain dengan jelas sesuai dengan yang dimaksudkan.
  2. Adanya saling kesefamanan antara komunikator dan komunikan dalam suatu permasalahan, sehingga terhindar dari salah persepsi.
  3. Menjaga hubungan baik dan silaturrahmi dalam suatu persahabatan, komunitas atau jama’ah.
  4. Aktivitas ‘amar ma’ruf nahi munkar di antara sesama umat manusia dapat diwujudkan dengan lebih persuasif dan penuh kedamaian.

 

12 cara berkomunikasi yang baik yaitu :

  1. Berbicaralah dengan jelas.
  2. Dengarkanlah apa yang diucapkan lawan bicaramu dan berikan respon yang baik. Pandanglah lawan bicaramu.
  3. Peliharalah kontak mata pada tingkatan yang sama-sama antara terus menatap dengan saling menghindari tatapan. Cobalah menangkap petunjuk-petunjuk tentang bagaimana yang leluasa bagi lawan bicaramu.
  4. Berupayalah semampumu untuk memahami apa maksud lawan bicaramu, kalau ada sesuatu yang tidak kamu pahami, tanyakanlah.
  5. Pekalah terhadap bahasa tubuh dan petunjuk-petunjuk lisan-punyamu maupun lawan bicaramu. Tampillah peka dan berminat. Amatilah tanda-tanda kalau lawan bicaramu kehilangann minat, ingin mengubah topiknya atau perlu mengakhiri percakapannya.
  6. Berikanlah umpan baik kalau diminta. Mintalah juga umpan balik.
  7. Berikanlah contoh-contoh untuk mendukung apa maksudmu.
  8. Berikanlah pendapatmu kalau diminta.
  9. Bergantianlah berbicara.
  10. Sesuaikanlah tingkat dan bahasa lawan bicaramu. Umpamanya, kamu tentu akan berbicara dengan cara yang berbeda kepada seorang anak daripada kepada seorang dewasa (gunakan kata-kata dan kalimat yang sederhana, bukan omongan bayi).
  11. Dengarkanlah permintaan lawan bicaramu (ini tidak selalu datang dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan langsung).
  12. Gunakan intuisimu. Terkadang kata-kata tidak perlu dan kamu bisa berkomunikasi dengan perasaan, ekspresi, gerak-gerik.

 

Larangan yang perlu diingat

  1. Jangan terlalu ingin tahu
  2. Jangan bergosip
  3. Jangan menginterupsi
  4. Jangan mengganti topiknya.
  5. Jangan menentang atau mengoreksi apa yang dikatakan lawan bicaramu.
  6. Jangan sesumbar
  7. Jangan tertidur.

 

 

 

SUMBER :

 

http://abihafiz.wordpress.com/2009/02/18/12-cara-berkomunikasi-yang-baik/. Diunduh pada tanggal 8 Agustus 2011.

 

Bimbingan Karier

Posted in Uncategorized on Juli 26, 2011 by novaozora

BIMBINGAN KARIER

 

A. Pendidikan Karier

               Bagi manusia muda, pendidikan sekolah akhirnya akan bermuara pada suatu jabatan yang diharapkan akan bermakna bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat. Kenyataan ini dapat diantisipasi dengan mempersiapkan orang muda melalui usaha-usaha pendidikan yang mengidahkan arti “bekerja” dalam kehidupan manusia dan kekhususan dari perkembangan karier. Usaha-usaha ini diwujudkan dalam apa yang disebut pendidikan karier atau pendidikan jabatan (career education). Secara formal pendidikan karier belum dikenal dalam dunia pendidikan sekolah di Indonesia, paling sedikit tidak sebagai usaha yang berlingkup lebih luas dari pada bimbingan karier dan sebagai komponen dalam program pendidikan sekolah yang melibatkan lebih banyak tenaga pendidik dari pada unsur personil bimbingan.

Istilah career education dicanangkan oleh Sidney J. Marland, Jr., Menteri Pendidikan Amerika Serikat, pada tahun 1971 dalam suatu makalah dalam pertemuan The National Association of Secondary School Principals. Dalam amanatnya Marland mendesak supaya para siswa di sekolah menengah dibekali keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk dapat hidup mandiri.

Dalam bukunya Career Education: from Concept to Reality (1979),Bruce Reinhart mendeskripsikan career education sebagai usaha dalam lingkungan pendidikan sekolah dan masyarakat luas untuk membantu semua individu selama seluruh kehidupannya untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut : (1) mengenal berbagai jenis jabatan yang terbuka baginya dan sekaligus dermakna serta memuaskan, dan menghayati semua nilai yang diamali oleh masyarakat yang berorientasi pada kerja; (2) menjadi mampu untuk mengambil keputusan rasional sehubungan dengan tujuan-tujuan yang ingin diperjuangkan dalam bidang kegiatan/aktivitas vokasional; (3) melaksanakan keputusan tadi secara nyata dalam bentuk mengintegrasikan semua nilai yang terkandung dalam bekerja (vocational values) serta semua sikap yang dituntut dalam bekerja (vocational attitudes) dalam keseluruhan gaya hidupnya.

 

 

Sebagai hasil dari proses pendidikan karier di sekolah ini, peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan sekolah diharapkan akan : (1) memiliki bekal akademik, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan fluktuasi perubahan dalam masyarakat; (2) mempunyai tata cara bekerja yang baik dan tepat dalam melakukan apa saja (good work habits); (3) berpegang pada nilai-nilai yang mendorong mereka mau bekerja keras; (4) menguasai cara yang tepat untuk mengambil keputusan tentang jabatan dan melamar pekerjaan di pasar kerja; (5) memilki keterampilan umum serta yang memungkinkan untuk mengikuti program latihan lebih luas dan mendalam dalam lingkungan jabatannya kelak (trainable); (6) sudah mengambil keputusan, berdasarkan pertimbangan matang terhadap data dan fakta tentang diri sendiri serta penawaran kesempatan memperoleh pendidikan tambahan, sebelum akan memasuki lingkungan suatu jabatan.

Dalam makalahnya yang berjudul Suatu Strategi Bimbingan Karier dalam Pembangunan Nasional (1983), P.M. Hattari menjelaskan bahwa istilah bimbingan karier merupakan istilah yang relative baru. Kalau di masa yang lampau digunakan istilah bimbingan jabatan, yang memberikan tekanan pada penyebaran informasi dan pengolahannya dalam wawancara konseling, dewasa ini digunakan istilah bimbingan karier yang menitikbertkan perancanaan masa depan dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dan keadaan dalam lingkungan hidup. Dalam buku Kurikulum Pedoman Bimbingan dikatakan bahwa program bimbingan karier di sekolah khusus bertujuan : “agar siswa mampu : (1) memahami diri, dunia kerja serta factor-faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memilih program atau jurusan secara tepat; (2) memiliki sikap positif terhadap diri sendiri serta pandangan yang obyektif dan maju terhadap dunia kerja; (3) membuat keputusan yang realistis tentang karier yang dipilih sesuai dengan kemampuannya”. Selanjutnya dikatakan bahwa “kegiatan bimbingan karier secara khusus berfungsi menjembatani dunia pendidikan dengan dunia kerja, Hal ini berarti bahwa kegiatan bimbingan bermaksud membantu siswa dalam merencanakan masa depannya secara terarah dan terencana.”

 

 

B. Layananan Bimbingan “Penempatan”

Penenmpatan (Placement) merupakan salah satu komponen bimbingan. Komponen ini mencakup semua usaha membantu siswa dan mahasiswa merencanakan masa depannya selama masih di sekolah, dan sesudah tamat dalam mengambil program studi tertentu sebagai studi lanjutan atau langsung mulai bekerja. Tujuan dari layanan bimbingan ini ialah, supaya siswa dan mahasiswa menempatkan diri dalam program studi akademik dan lingkup kegiatan non-akademik, yang menunjang perkembangannya dan semakin merealisasikan rencana masa depannya, atau melibatkan diri dalam lingkup suatu jabatan yang diharapkan cocok baginya dan memberikan kepuasan kepadanya. Kalau mula-mula berbagai kegiatan layanan penempatan mirip dengan apa yang dilakukan oleh orang yang bekerja di suatu Biro Penempatan Tenaga, dewasa ini kegiatan layanan ini jauh lebih kompleks dan mencakup unusur-unsur: (1) perencanaan masa depan; (2) pengambilan keputusan; (3) pemasukan ke salah satu jalur akademik, program kegiatan ekstrakurikuler, program persiapan prajabatan atau lingkup jabatan; (4) pemantapan dan reorientasi bila hal ini perlu (tindak lanjut atau follow-up); dan (5) pengumpulan data dalam rangka penelitian terhadap mereka yang sudah tamat sekolah (studi survai atau follo- up studies). Dalam literatur professional istilah perencanaan karier (career planning), layanan penempatan (placement service), tindak lanjut (follow-up), dan studi survai (follow-up studies) kerap disebut bersama-sama dipandang sebagai aspek-aspek dari suatu layanan bimbingan.

  1. 1.   Perncanaan

Perencanaan yang matang menuntut pemikiran tentang segala tujuan yang hendak dicapai dalam jangka waktu panjang (long-range goals), dan semua tujuan yang hendak dicapai dalam jangka waktu pendek (short-range goals). Hasil dari perencanaan adalah keputusan tentang sesuatu yang dipilih secara sadar, biasanya dari antara sejumlah alternatif yang dapat dipilih. Kebanyakan pilihan itu menyangkut tujuan jangka waktu pendek yang merupakan langkah penunjang agar mencapai tujuan jangka waktu panjang.

Membantu orang muda dalam merencanakan masa depan bagi konselor di instansi pendidikan merupakan tantangan karena berbagai alasan, yaitu: (a) harus mempertimbangkan taraf kematangan vokasional orang muda (vocational maturity); (b) harus dihindari bahaya yang terkandung dalam memberikan saran tentang pilihan yang sebaiknya dibuat, karena yang sebaiknya mungkin tidak dimengerti oleh orang muda, dia hanya mengikuti sarannya saja; (c) harus dihindari memberikan ramalan yang bersifat dogmatic tentang kemungkinan konseli akan berhasil atau gagal dalam mengambil suatu jalur; (d) harus dihindari memberikan kesan bahwa hanya terdapat satu jabatan yang cocok bagi konseli dan akan memuaskan baginya; (e) harus dijaga jangan sampai konseli membuat pilihan hanya atas dasar keinginan saja.

2. Tindak Lanjut dan Studi Survai

Baik tindak lanjut maupun studi survai merupakan kegiatan bimbingan yang dilakukan sesudah siswa dan mahasiswa memasuki jalur program studi akademik, program persiapan prajabatan atau jabatan tertentu. Pada tindak lanjut, konselor berwawancara dengan seseorang yang menghadap untuk membicarakan suatu masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pilihan yang telah dibuatnya. Namun perlu dipertimbangkan baik-baik apa konsekuensi yang timbul kalau pilihan lama ditinggalkan dan konseli berputar haluan. Kadang-kadang konsekuensi-konsekuensi dianggap terlalu berat, sehingga konseli memutuskan untuk berjalan terus dan berusaha sebaik mungkin (make the best of it).

Mengadakan studi survai termasuk kegiatan riset dengan tujuan memperoleh data tentang mereka yang sudah tamat dari institusi pendidikan tertentu, misalnya di SMA, tentang mereka yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi, dan di perguruan tinggi tentang mereka yang sudah terjun ke dunia kerja. Data mengenai penyebaran para lulusan dari masing-masing program studi di SMA di antara fakultas-fakultas di perguruan tinggi dapat membantu siswa yang belum tamat untuk memprakirakan besar kecilnya kemungkinan diterima di fakultas yang ingin dipilih. Demikian pula para mahasiswa di berbagai fakultas dapat memprakirakan besar kecilnya kemungkinan diterima dalam jabatan tertentu. Data ini, bersama ungkapan pengalaman dan pandangan, dicari dengan mengedarkan suatu angket di antara para tamatan, atau menyerahkan suatu format kepada wisudawan dan wisudawati dengan permintaan untuk diisi dan dikembalikan beberapa bulan kemudian. Namun, dari pengalaman banyak tenaga bimbingan yang pernah mengambil inisiatif untuk mengadakan studi survai dan merencanakannya dengan baik, ternyata studi survai itu sulit jalan karena beraneka kendala yang sukar diatasi, misalnya perpindahan alamat tidak diberitahukan, jumlah angket yang dikembalikan sangat sedikit, dan format kosong yang dibagikan pada waktu wisuda tidak ditanggapi sebagaimana diharpkan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan bagaimana caranya memperoleh jaminan bahwa para tamatan akan berpartisipasi sepenuhnya dalam studi survai ini.

3. Pusat Bimbingan Karier

Suatu perkembangan baru di sejumlah kampus perguruan tinggi di Amerika Serikat adalah lahirnya pusat-pusat bimbingan karier yang dikenal dengan nama Career Planing and Placement Office, yang dikelola oleh staf tenaga professional bimbingan. Yang dikenal dahulu adalah Biro Penempatan Tenaga (placement office) sebagai unit tersendiri pada pusat bimbingan, yang bertugas menyalurkan permintaan tenaga kerja dari kalangan luar kampus kepada mahasiswa-mahasiswi di berbagai fakultas. Pusat Bimbingan Karier ini mempunyai banyak kemiripan dengan Laboratorium Bimbingan Karier (Guidance Career Center, Guidance Resource Center, Career Information Center), tetapi menunjukkan perbedaan juga. Yang pertama terutama terdapat di kampus-kampus perguruan tinggi dan mengelola suatu program bimbingan karier yang lebih luas. Yang kedua terutama melayani kalangan siswa di jenjang pendidikan menengah atas dan memusatkan perhatian pada perencanaan karier, termasuk di dalamnya pengolahan informasi karier, tetapi tidak menjadi perantara antara pihak pengusaha yang mencari tenaga kerja dan siswa yang mencari lowongan kerja.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka program bimbingan karier di Pusat Bimbingan Karier adalah sebagai berikut :

a)      Mengelola arsip permintaan mendapatkan tenaga kerja untuk lingkup jabatan tertentu dan mengedarkan pengumuman yang resmi kepada para mahasiswa tentang lowongan kerja itu.

b)      Mengelola arsip permohonan pelamaran dari para mahasiswa untuk diterima dalam lingkup jabatan tertentu dan mengedarkannya kepada pengusaha atau instansi yang membutuhkan tenaga kerja (personnel brief).

c)       Mengelola arsip permintaan memperoleh tenaga kerja part time sepanjang tahun atau untuk masa liburan panjang dan mengedarkan secara luas pengumuman kepada para mahasiswa tentang hal ini.

d)     Mengelola pertemuan-pertemuan kelompok bagi mahasiswa yang ingin memantapkan diri dalam perencanaan karier sesudah tamat, termasuk pemahaman diri dalam berbagai aspeknya dan studi tentang konstelasi kualifikasi yang harus dimiliki dalam memegang jabatan tertentu.

e)      Menyelenggarakan lokakarya-lokakarya dalam membuat lapangan pekerjaan (resume writing) dan mempersiapkan diri untuk wawancara seleksi dengan pihak yang membutuhkan tenaga kerja baru (employment interview, assessment interview).

f)       Mengumpulkan dan mengelola bahan informasi karier yang relevan (seperti pada laboratorium bimbingan karier).

g)      Mengelola program testing.

h)      Menyelenggarakan wawancara konseling individual.

i)        Mengadakan studi survai.

 

  1. C.    Konseling Karier

Untuk membantu orang muda merencanakan masa depannya, wawancara konseling secara individual sangatlah bermanfaat, lebih-lebih bagi orang yang harus mengambil keputusan penting. Bilamana siswa dan mahasiswa berpartisipasi aktif dalam program kegiatan bimbingan kelompok, konseling karier akan jauh lebih mudah bagi konselor dan konseli serta dapat memfokuskan pembicaraan pada masalah pemilihan di antara beberapa alternative. Namun, karena adanya beberapa alasan, orang muda mungkin belum siap sepenuhnya untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, dalam kenyataan, konselor akan berhadapan dengan konseli-konseli yang berada pada tingkat perkembangan karier yang berbeda-beda dan pada taraf kesiapan mental untuk mengambil keputusan yang berlain-lainan.

Dalam mengambil keputusan harus dipertimbangkan bobot pengaruh factor-faktor eksternal dan internal yang diketahui dan disadari, tetapi tetap perlu diakui kemungkinan akan timbul factor X yang tidak diketahui sekarang ini. Resiko akan mengalami kegagalan dapat diperkecil dengan memikirkan dan menetapkan beberapa pilihan dalam urutan prioritas pertama, kedua dan ketiga, yang ketiga-tiganya dianggap jatuh pada skala sangat sesuai sampai cukup sesuai, tentu saja harus ada kemungkinan untuk membuat lebih dari satu pilihan. Dalam menentukan pilihan-pilihan itu, unsure kompromi kerap sudah masuk, sejauh orang mencari jalan tengah antara yang paling diharapkan dan yang paling dimungkinkan, atau antara yang paling ideal dan yang paling realistic. Oleh karena itu, konselor sekolah yang melayani konseli yang sudah siap untuk membuat rencana yang mengandung resiko gagal sekecil mungkin.

 

D. Faktor-Faktor Pokok dalam Perkembangan Karier

Shertzer dan Stone (1981) mengutip definisi tentang perkembangan karier yang pernah dirumuskan oleh The National Vocational Guidance Association (1973) sebagai berikut: “Gabungan factor-faktor psikologis, sosiologis, pendidikan fisik, ekonomis, dan kesempatan, yang bersama-sama membentuk jabatan seseorang”. Gabungan ini mencakup beberapa factor internal dan eksternal. Di bawah ini diuraikan sejumlah factor internal dan eksternal.

 

1. Faktor-Faktor Internal

Faktor-faktor internal dapat dibedakan yang satu dengan yang lain, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain karena bersama-sama membentuk keunikan kepribadian seseorang. Sebagaimana dikatakan di atas, terjadi pada perubahan pada faktor internal itu, meskipun tidak dalam gradasi yang sama pada masing-masing factor. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut :

a)      Nilai-nilai kehidupan (values), yaitu ideal-ideal yang dikejar oleh seseorang di mana-mana dan kapan pun juga. Nilai-nilai menjadi pedoman dan pegangan dalam hidup sampai umur tua dan sangat menentukan bagigaya hidup seseorang.

b)      Taraf Intelegensi, yaitu taraf kemampuan untuk mencapai prestasi-prestasi yang di dalamnya berpikir memegang peranan. Menurut Binet, hakikat intelegensi adalah kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis serta obyektif.

c)      Bakat khusus, yaitu kemampuan yang menonjol di suatu bidang usaha kognitif, bidang keterampilan, atau bidang kesenian. Sekali terbentuk, suatu bakat khusus menjadi bekal yang memungkinkan untuk memasuki berbagai bidang pekerjaan tertentu (fields of occupation) dan mencapai tingkatan lebih tinggi dalam suatu jabatan (levels of occupation).

d)     Minat, yaitu kecenderungan yang agak menetap pada seseorang untuk merasa tertarik pada suatu bidang tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang itu.

e)      Sifat-sifat, yaitu ciri-ciri kepribadian yang bersama-sama memberikan corak khas pada seseorang.

f)       Pengetahuan, yaitu informasi yang dimiliki tentang bidang-bidang pekerjaan dan tentang diri sendiri.

g)      Keadaan jasmani, yaitu ciri-ciri fisik yang dimiliki seseorang. Untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu berlakulah berbagai persyaratan yang menyangkut ciri-ciri fisik.

 

2. Faktor-Faktor Eksternal

Faktor-faktor eksternal dapat dibedakan yang satu dengan yang lain, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena bersama-sama menciptakan keseluruhan ruang gerak hidup. Faktor eksternal yang terkait adalah sebagai berikut :

a)      Masyarakat, yaitu lingkungan social budaya di mana orang muda dibesarkan. Lingkungan ini luas sekali dan berpengaruh besar terhadap pandangan dalam banyak hal yang dipegang teguh oleh setiap keluarga, yang pada gilirannya menampakkannya pada anak-anak.

b)      Keadaan social ekonomi negara atau daerah, yaiut laju pertumbuhan ekonomi yang lambat atau cepat; stratifikasi masyarakat dalam golongan social-ekonomi tinggi, tengah, dan rendah; serta diversifikasi masyarakat atas kelompok-kelompok yang terbuka atau tertutup bagi anggota dari kelompok lain.

c)      Status social-ekonomi keluarga, yaitu tingkat pendidikan orang tua, tinggi rendahnya pendapatan orang tua, jabatan ayah atau ayah dan ibu, daerah tempat tinggal, dan suku bangsa.

d)     Pengaruh dari seluruh anggota keluarga besar dan keluarga inti.

e)      Pendidikan sekolah, yaitu pandangan dan sikap yang dikomunikasikan kepada anak didik oleh staf petugas bimbingan dan tenaga pengajar mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam bekerja, tinggi rendahnya status social jabatan-jabatan, dan kecocokan jabatan tertentu untuk anak laki-laki atau anak perempuan.

f)       Pergaulan dengan teman-teman sebaya, yaitu beraneka pandangan dan variasi harapan tentang masa depan yang terungkap dalam pergaulan sehari-hari.

g)      Tuntutan yang melekat pada masing-masing jabatan dan pada setiap program studi atau latihan, yang mempersiapkan seseorang untuk diterima pada jabatan tertentu dan berhasil di dalamnya.

 

E. Implikasi-Implikasi bagi Bimbingan di Institusi Pendidikan

Beberapa implikasi bagi bimbingan karier di institusi pendidikan sebagai berikut :

  1. Perkembangan karier merupakan salah satu segi dari keseluruhan proses perkembangan orang muda dan pilihan yang menyangkut jabatan di masa depan berlangsung selaras dengan perkembangan karier.
  2. Pilihan jabatan tidak dilakukan sekali saja dan tidak definitive dengan sekali memilih saja. Orang muda membuat suatu rangkaian pilihan yang berkesinambungan dan bertahap, dari pilihan yang masih bersifat agak luas dengan memilih bidang bidang jabatan sampai jabatan di bidang tertentu.
  3. Konseling karier, yang berlangsung dalam pertemuan pribadi antara konselor dan konseli dan kerap terfokuskan pada permasalahan mengenai pilihan program studi dan atau pilihan jabatan, akan berlangsung lebih lancar bila orang muda telah disiapkan melalui bimbingan karier secara kelompok untuk menghadapi saat-saat harus dibuat suatu pilihan di antara beberapa alternatif.
  4. Pendekatan karier dan bimbingan karier tidak dapat dilepaskan dari gayahidup yang dicita-citakan oleh orang muda bagi dirinya sendiri (life style orientation). Karier yang akan dikembangkan oleh seseorang selama masa hidupnya merupakan sebagian dari keseluruhan gaya hidupnya (life style).

F dan C Therapy

Posted in Uncategorized on Juli 26, 2011 by novaozora

Buku Pelajaran Terapi Keluarga dan Pasangan

Tabel 7-1. Permasalahan mungkin bermanfaat untuk strategi-strategi terapi perilaku keluarga

Psikologis

Secara Biomedis

Perilaku penyimpangan pada anak-anak

Cacat mental dan penderita autis

Gangguan perilaku kedewasaan

 

Permasalahan pernikahan dan keluarga

Gangguan seksual

Penyalahgunaan narkoba dan alkohol

Kekerasan keluarga dan penyiksan anak

Bimbingan sebelum pernikahan

Meditasi perceraian

Penyimpangan makan

Pencegahan bunuh diri

Perawatan tempat tinggal: rumah, hotel, dll.

Masalah penyeranagn kriminal

Depresi

Penyimpangan dua kutub

Schizofrenia, penyakit jiwa berupa suka mengasingkan diri

Penyimpangan kegelisahan

Pencegahan penyakit kambuh lagi

Masalah kesehatan fisik kronis

Dementia

Stres yang berhubungan denagn tekanan pada kelompok resiko tinggi (pencegahan)

 

Kesimpulan

Terapi perilaku keluarga menyediakan susunan untuk membantu kehidupan manusia bersama, membagi kelompok kehidupan untuk mempertinggi kualitas usaha mereka untuk saling membantu menanggulangi stres yang bertumpuk-tumpuk yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari mereka, sebaik krisis kehidupan utama. Hal ini terutama tercapai melalui peningkatan efisiensi fungsi pengatasan masalah kelompok melalui peningkatan kemampuan komunikasi antar perorangan yang dikombinasikan dengan struktur pembahasan mengatasi masalah reguler yang lebih jelas. Keseluruhan tujuan adalah untuk meminimalkan periode stres tingkat tinggi yang mengancam meliputi kapasita anggota rumah tangga, terutama sekali anggota-anggota tersebut yang mungkin mudah diserang stres yang berhubungan dengan kesehatan atau masalah-masalah psikologis. Strategi tambahan termasuk jarak penuh strategi teori dan strategi perilaku, pskologi pendidikan, dan farmakoterapi sasaran yang mungkin seluruhnya dikombinasikan dengan pendekatan ini untuk menyediakan perencanaan yang luas dari perawatan masalah-masalah kesehatan dan psikososial yang serius.

 

Penelitian

Kemujaraban BFT dalam Penyimpangan Mental Utama

 

Pertanayan pertama dari ahli terapi perilaku adalah apakah tujuan khusus terapi tercapai pada perilaku khusus. Tujuan utama BFT dalam memperlakukan penyimpangan mental utama adalah untuk mempertinggi kemujaraban mengatasi masalah dari unit keluarga. Dalam studi terkontrol yang membandingkan BFT dengan terapi suportif individu (IST) dari intensitas yang sama dalam istilah pengaturan szhizofrenia, ukuran indikasi mengatasi maslah keluarga jumlah pernyataan mengatasi masalah keluarga telah dicatat setelah 3 bulan IST (Doane at al. 1986). Mungkin secara signifikan, kualitas mengatasi masalah keluarga yang diamati dengan penaksir independen yang mewawancarai keluarga tentang kejadian stres setiap hari yang menunjukkan peningkatan linear signifikan lebih dari 9 bulan pertama dari pengobatan keluarga yang menerima BFT. Tidak ada keuntunagn yang dicatat untuk keluarga IST. Tiangkat stres yang sama ditingkatkan oleh keluarga pada setiap kondisi. Jadi, hal ini beralasan untuk menyimpulkan bahwa BFT mungkin dihubungkan dengan peningkatan khusus pada fungsi pengatasan masalah dan pengaturan akibat stres.

Hal ini disimpulakan bahwa perubahan khusus dalam kemampuan keluarga untuk mengatasi kondisi stres kehidupan dengan jarak yang besar akan diasosiasikan dengan keuntungan klinis. Bukti hal ini adalah mengesankan. Yang pertama, Para pasien BFT berpengalaman lebih sedikit  dari episode schizofrenia utama selama periode dua tahun. Pasien BFT (17%) berpengalaman sejumlah tujuh episode utama, sementara 86% pasien IST berpengalaman 41 episode schizofrenia utama, dan selanjutnya 11 episode depresi utama (dibandingkan dengan 5 episode utama pada p[asien BFT). Pengamatan klinis didukung oleh rata-rata psikopatologi yang mengindikasikan tidak hanya gejala kemerah-merahan schizofrenia lebih stabil pada pasien BFT. , tetapi ada peningkatan tetap dari tingkat dasar, saran yang telah dipromosikan BFT adalah pengampunan gejala lebih jauh 9falloon et al. 1985). Sebuah trend ( hampir mencapai statistik tingkat 5%) telah dicatat pada skala rata-rata psikiatris singkat (BPRS) faktor penarikan yang menyarankan bahwa BFT diasosiasikan dengan pengurangan gejala negatif schizofrenia. Pada akhir tahun ke 2, setengah pasien BFT menunjukkan tidak ada bukti beberapa penyimpangan mental pada wawancara pemeriksaan negara. Secara kontras, 83% pasien IST masih menunjukkan bukti gejala schizofrenia pada 2 tahun, walaupun mereka terlalu menunjukkan kecenderungan terhadap pengampunan, walaupun banyak jalan yang lebih lambat. Jadi, keuntungan BFT tampak asli dan diakibatkan pada pembusukan kelompok IST. Keuntungan diasosiasikan dengan perbedaan pada pengobatan obat-obatan yang diterima pasien pada kedua kondisi. Sesungguhnya, pasien BFT cenderung mempunyai neuroleptik yang lebih rendah dari pada pasien IST, dan walaupun yang terakhir lebih sulit memelihara permintaan yang mencukupi, hal ini telah diperbaiki melalui penggunaan persiapan dalam otot dan strategi permintaan lainnya.

Pencapaian stabilitas klinis dan pengampunan adalah tujuan yang terpenting dari rehabilitasi penyimpangan kronis. Tetapi, tujuan yang lebih penting dari pendanagn pasien adalah pemulihan fungsi sosial. Kita seharusnya tidak melupakan bahwa stabilitas dengan siap tercapai dengan memindahkan orang yang szhizofrenia dari komunitas kehidupan dan menempatkannya dalam tempat yang mempunyai sedikit tekanan (Lamb dan Goertzel 1971). GFT menekankan pada pencapaian fungsi tujuan pasien , diasosiasikan dengan keuntungan sosial. Pasien BFT waktu ganda yang mereka habiskan untuk membangun aktivitas kerja dibandingkan dengan dua tahun waktu sebelum studi. Rata-rata samar dari ukuran penampilan sosial menunjukkan peningkatan yang signifikan lebih dari 2 tahun periode studi sebaik keuntungan penting yang lebih hebat daripada yang dicapai leh pasien IST. Keuntungan perbandingan yang hebat untuk BFT adalah area aktivitas kerja, tugas-tugas rumah tangga, dan persahabatan diluar keluarga (Falloon et at. 1987).

Anggota keluarga orang-orang dengan penyimpanagn kronis cenderung memimpin jatuh miskin dan mempertimbangkan pengalaman kesusahan mereka (Hatfield 1981). Pendekatan pengaturan efektif akan diharapkan untuk mengurangi tingkat beban. BFT diasosiasikan dengan peningkatan kepuasan keluarga sebaik pasien, bahkan ketika keuntungan individu pasien terbatas. Beban diasosiasikan denagn perawatan pasien yang dikurangi lebih dari 2 tahun sehingga 17% anggota keluarga dilaporkan layak dari tingkat beban pada tingkat itu. Di sisi lain hampir 23 keluarga yang menerima IST dialnjutkan untuk mengeluh dari kelayakan atau beban pada 2 tahun. Bersamaan dengan bukti awal dari peningkatan pengaturan stres keluarga dalam jarak yang luas, penemuan ini menyarankan keuntungan BFT memperluas diluar index pasien dan berpengalaman dengan keluarga secara keseluruhan.

Wlaupun sejumlah subyek dalam studi ini terlalu kecil untuk diikuti analisis multivarian detil, data didukung kesimpulan yang secara khusus berubah dalam mengatasi permasalahan keluarga yang membujuk  BFT diasosiasikan dengan keuntungan klinis dan sosial (Doane et al. 1986; Falloon 1985).

Selanjutnya peningkatan perilaku mengatasi permasalahan keluarga yang efisien ditunjukkan untuk menyamaratakan jarak yang besar dari stres keluarga dan tampak pada pengaruh kejadian kehidupan utama. Keluarga BFT tampak menggunakan perilaku mengatasi masalah mereka untuk mengurangi pengaruh stres kejadian kehidupan (Hardesty et al. 1985). Selama  12 bulan studi, 18 keluarga berpengalaman hanya 3 kejadian kehidupan yang diasosiasikan dengan pengobatan jangka panjang tingkat tinggi, seperti didefinisikan oleh Brown dan Harris (1978). Jadi keuntungan BFT tampak dari pengurangan dua stres kesulitan rumah tangga setiap hari tampak tetap melalui 2 tahun studi intensif, walaupun data tidak komplit dan analisis komprehensif tidak diselenggarakan. Hal ini mungkin keuntungan langsung dalam kedua keadaan klinis dan sosial tercapai sebagai hasil kelanjutan kegunaan pendekatan mengatasi masalah terstruktur dalam pengaturan stres dan kenaikan fungsi sosial.

 

Studi Schizophrenia dan Depresi

 

Generasi studi BFT, termasuk studi pengaruh schizophrenia dan depresi, sekarang ini dengan cara yang baik. Studi ini ada dua tipe. Tipe pertama mencoba untuk memperkerjakan metode BMT dengan populasi klinis dan sosial yang berbeda. Tipe percobaan yang ke dua menganalisis kontribusi hubungan komponen utama pendekatan. Studi ini berlangsung di Munich, Los Angeles ( tiga studi, satu dengan keluarga Hispanic), pemeliharaan baik, Naple, Athena, Manchester, Birmingham, Southampton, Sydney, dan Bonn. Ada juga banyak pusat kolaboratif sekarang ini di 5 kota Amerika Serikat. Hasil penerbitan studi ini dinantikan. Hasil persiapan menyarankan bahwa kebanyakan akan memproduksi kembali penemuan utama proyek Universitas California Selatan (USC). Salah satu studi utama dipenuhi di Salford, England, ditemukan keuntunagn yang sama untuk pendekatan perilaku mengatasi masalah yang diterapkan pada keluarga (Tarrier et al. 1988b). Untungnya, tidak ada keuntungan khusus fungsi sosial yang tampak diasosiasikan dengan pendekatan yang agak sedikit intensif dalam studi populasi yang lebih kronis. Selanjutnya tambahan kegagalan menunjukkan hasil yang sama mungkin diperoleh ketika pendekatan diterapkan denagn praktek klinis setiap hari (Broker et. Al. 1992; Curran 1988; Whitfield et al. 1988).

Jumlah yang besar studi terkontrol dan tak terkontrol BFT dengan penyimpangan schizofrenik dibandingkan dengan sedikit percobaan untuk mengevaluasi keefektifan pengaruh penyimpangan. Terpisah dari studi Seattle denagn penyimpangan depresi (Jacobson 1988), studi yang lain dalam kemajuan dibandingkan dengan pengaruh tambahan BFT pada litium dalam pengaturan penyimpangan bipolar dalam masa yang panjang.

Strategi pengobatan NIMH pada studi kolaboratif schizofrenia mencoba untuk memriksa interaksi antara obat-obatan neuroleptik dan campur tangan keluarga pada perawatan schizofrenia. Lima pusat – klinik Payne Whitney; Rumah Skit Hillside (Pulau panjang); Universitas Emery/ Grady; Rumah Skit San Fransisco; dan Universitas Medis Pennsylvania (EPPI) – telah dipilih untuk studi tersebut. Ahli terapi pada setiap pusat telah dilatih untuk menstabilkan pasien yang telah berpengalaman pada episode schizofrenia baru dengan opbat-obatan neuroleptik dosis optimal sebelum secara acak menempatkannya pada decanotate fluphenazine ganda pada tiga dosis.

  1. Kelanjutan dosis optimal
  2. Seperlima dosis optimal
  3. Dosis yang ditargetkan fluphenazine diasosiasikan dengan periode ketika tanda awal episode yang akan datang terdeteksi.

Alokasi acak BFT atau dukungan campur tangan keluarga pada lokakarya pendidikan dan kelompok dukungan pendidikan bulanan serta menerima dukungan krisis ketika dibutuhkan. BFT sama denga nyang dipekerjakan di study USC, dengan satu modifikasi penting; ahli terapi bukanlah ahli terapi perilaku dan belum dilatih untuk menerapkan program perilaku memuaskan, seperti depresi atau pengaturan kegelisahan, pelatihan ketrampilan sosial, atau penghargaan ekonomi, dengan kerangka kerja pengatasan masalah keluarga. Jadi, metode dipusatkan hampir seluruhnya pada pada fungsi mengatasi masalah secara umum dari unit keluarga.

BFT menyediakan setidaknya 12 bulan setelah stabilisasi dan berlanjurt melalui episode schizophrenia atau pengakuan rumah sakit, dalam perilaku yang sama pada studi USC. Hipotesis utama telah diuji pada hipotesis ini yaitu BFT, denagn keefektifan dalam kenaikan pengaturan stres, mungkin mengurangi kebutuhan untuk pengobatan neuroleptik dengan dosis tinggi dan dan oleh karena itu pengaruh yang mengganggu diasosiasikan dengan dengan obat-obatan ini. Tetapi jumlah yang besar kasus memasuki studi akan dapat menjelajahi persoalan sekunder denagn jarak yang besar. Hal ini termasuk asosiasi antara kompetensi ahli terapi dan hasil terapi, keuntunagn khusus yang lebih intensif menargetkan terapi keluarga, biaya keefektifan pendekatan ini, dan predikator kemujaraban terapi.

Proyek campur tangan awal Buckingham berdasarkan asumsi bahwa BFT efektif dalam mengurangi frekuensi schizophrenia utama dan episode depresi dalam maengembangkan kasus schizophrenia, pendekatan yang sama mungkin mengurangi kesehatan diasosiasikan dengan episode permulaan schizophrenia dan penyimpangan pengaruh utama. Percobaan telah dibuat untuk mendeteksi kasus selama fase prodromal gejala awal dari penyimpangan ini, ketika episode utama tampak dekat. Absensi ukuran biologis yang jelas saat ini mudah terkena serangan dibatasi strategi deteksi untuk pengenalan ciri-ciri klinis melalui penyaringan oleh dokter biologis yang jelas, yang bekerja pada kolaborasi dekat yang denagn tinggi dilatih profesional kesehatan mental. Deteksi dugaan status prodromal gejala awal memimpin untuk campur tangan dengan BFT dan target neuroleptic dosis rendah atau antidepresi ketika cocok. BFT berfokus pada pengaturan stres dan pendidikan indek pasien serta pemberian perawatan untuk mengenal gejala utama penyimpangan mental ini. Obat-obatan yang tidak dilanjutkan secepat ciri-ciri kiriman pedromal.

Hasil awal mendukung kemungkinan terjadinya pendekatan ini, denag nlebih dari 100 kasus yang diatur berhasil dengan cara ini. Pengurangan sepuluh kali lipat dalam pengaruh penyakit schizophrenia dan penyimpangan pengaruh utamam telah diamati. Selanjutnya usaha yang telah dibuat untuk memimpin evaluasi terkontrol pendekatan ini.

Peningkatan strategi campur tangan memuaskan telah disertai kemajuan yang sama dalam proses penaksiran. Daripada menghitung jumlah respon positif dan negatif belaka diamati selama pembahasan yang berhubungan dengan masalah, metode pemeriksaan rangkaian interaksi keluarga telah dikembangkan. Metode ini telah dikembangkan oleh Hahlweg dan rekannya (Halwegh et al. 1984a, 1984b) mengizinkan pendapat panas untuk dipetakan dan dibandingkan dengan pembangunan ekpresi perasaan tidak menyenangkan yang memperbesar resolusi permasalahan efektif. Hal ini telah dikembangkan bahwa ekpresi perasaan tidak menyenangkan dalam perilaku yang membantu pada definisi masalah khusus yang jelas, agaknya melalui omelan paksaan atau komentar yang bersifat permusuhan, adalah langkah krusial pertama dalam pemecahan permasaalahan.

 

Kemujaraban Perilaku Terapi Keluarga dalam Penyimpangan Lainnya

 

Keefektifan campur tangan BFT telah didemonstrasikan dalam jarak yang luas dari pusat kelompok klien, termasuk kesukaran yang berhubungan denagn perang (Jacobson dan Margolin 1979; Weiss 1980), bimbingan sebelum pernikahan (Markman dan Floyd 1980), penyimpangan perilaku anak-anak (Griest dan Wells 1983), konflik kedewasaan (Alexander dan Parson 1982; Foster et al. 1983), perkembangan ketidakmampuan (Harris 1983) dan dementia (J. M. Zrit dan Zrit 1982; S. H. Zarit dan Zrit 1982).

Hasil pendekatan studi BFT terkontrol untuk penyimpangan pengaruh utama telah diselenggarakan di Los Angeles dan Colorado (Miklowitz dan Goldstein 1997). Studi ini menunjukkan keuntungan yang sama pada yang ditemukan dalam studi penyimpangan shizophrenia mungkin brasal dari penyimpagan bipolar BFT, seperti kegelisahan, anorexia dan bulimia, depresi, dan penyalahgunaan zat kimia, menunjukkan keuntungan tambanhan dari integrasi ini (Falloon 1988).

Perkembangan Terakhir

 

Hasil penelitian sepuluh tahun yang lalu memimpin pada kesimpulan bahwa terapi keluarga berdasarkan pada model BFT antara pengobatan pilihan penyimpangan psikis yang terbaik. Lebih dari 20 studi kualitas tinggi telah diselenggarakan. Studi ini merubah pertimbangkan dalam campur tangan pemeriksaan strategi BFT khusus. Dasar yang paling menyediakan beberapa sesi pemberian informasi tentang pengobatan (Hornung et al. 1995). Hal lainnya diperluas selama beberapa tahun, dengan pendidikan yang berkelanjutan, strategi pengaturan stres, dan pengaturan krisis berdasarkan perumahan, pelatihan ketrampilan sosial, pelatihan keahlian, strategi perilaku teori, dan pengaturan krisis berdasarkan perumahan ketika diperlukan (Hahlewg et al. 1995; Hogarty et al. 1986; McFarlane et al. 1995 a, 1995b, 1996; Tarrier et al. 1988b, Veltro et al. 1996).

Sejak tahun 1980, 14 acak, percobaan terkontrol telah denagn kasus pengaturan individu dan pemeliharaan pengobatan denagn atau tanpa tambahan pendekatan keluarga berdasarkan BFT (Falloon et al 1984, 1985; Hogarty et al. 1986, hornung et al. 1995; Leff et al. 1982; McFarlane et al. 1996; Randolph et al. 1994; Tarrier et al 1988b; Veltro et al. 1996; Xiong et al. 1994; Zhang dan Yan 1993; Zhang et al. 1994); keduanya menunjukakn tidak ada perbedaan yang penting (Buchkremer et al. 1995; Linszen et al. 1996); dan salah satu menunjukkan keuntungan yang penting untuk kasus pengaturan individu (Telles et al. 1995). Sebuah analisis keuntungan dalam istilah proporsi kasus pemeliharaan dalam pengobatan satu tahun tanpa bentuk psikopatologi utama pembusukan menunjukkan 26% keuntungan strategi pengaturan stres (resiko hubungan pembusukan RR=0,61; CL 0,57 < RR < 0,65; chi-square= 222.49; P<0.00000001). Selama periode 12 bulan, 62% kasus telah menunjukkan keberhasilan, dibandingkan dengan 37% kasus tidak diterimanya keluarga berdasarkan pengaturan stres.

Tetapi ketidakhadiran pembusukan utama tidak hanya tujuan pengobatan jangka panjang. Kebanyakan pasien berpengalaman  dilanjutkan dengan kegilaan dan kekurangan psikopatologi untuk beberapa waktu setelah episode kegilaan utama. Keuntungan pengaturan strategi stres dalam mengurangi sisa psikopatologi, dan dengan cara demikian mempertinggi trend terhadap pengampunan penuh schizophrenia, yang diakses dalam 11 studi (Buchkremer et al. 1995; Falloon et al. 1985; Hahlweg et al. 1985; Mc Farlane et al. 1966; Montero dan Asencio 1996; Randolph et al. 1994; Telles et al. 1995; Veltro et al. 1996; Xiong et al. 1994; Zastowny et al. 1992; Zhang et al. 1994). Studi ini membandingkan skala rata-rata psikopatologi pada waktu penugasan acak, ketika pasien memasuki fase perbandingan studi, dengan rata-rata yang diperoleh setahun kemudian. Seluruhnya tetapi studi ini (Zhang et al. 1994), keseluruhan trend terhadap  penyembuhan telah diamati, keduanya denagn pengobatan yang bersifat percobaan dan kontrol. Zhang dan rekannya, yang tinggal pada pembebasan pembusukan. Keuntungan penambanhan BFT berdasarkan pendekatan terbukti lagi, dengan penemuan pengurangan arti psikopatologi 32% dari tingat stabilitas dasar, dibandingkan dengan 14% pengurangan pengaturan kasus pengobatan narkoba.

Mungkin tujuan BFT yang terpenting adalah kemampuan orang-orang untuk memfungsikan aturan sosial dalam jarak penuh. Keuntungan sosial dari 11 metodelogi studi yang mencukupi menunjukkan 18% keuntungan pengaturan keluarga dan 2% kondisi kontrol. Empat studi menunjukkan keuntungan yang lebih besar dari strategi BFT (Falloon et al. 1985; Veltro et al. 1986; Xiong et al. 1994; Zhang dan Yan 1993), menunjukkan trend yang jelas (McFarlane et al. 1996) dan ketiganya menunjukkan keuntungan penting ketika dibandingkan dengan pengobatan narkoba dan pengaturan kasus (Buchkremer et al. 1995; Hornung et al. 1995, Randolph et al. 1994).

Strategi BFT bertujuan untuk mempertinggi fungsi keluarga dan mengurangi stres, terutama yang diasosiasikan dengan aturan pemberian perawatan. Pengurangan arti stres pemberian perawatan 34% dilaporkan dalam empat studi menggunakan campur tangan keluarga (Falloon et al. 1985; Mc Farlane et al. 1996; Zhang dan Yan 1993). Hal ini dibandingkan dengan pengurangan stres 9% dalam narkoba dan kasus pengaturan kondisi menunjukkan keuntungan penting untuk pendekatan pengaturan stres Falloon et al. 1985; Mc Farlane et al. 1996; Zhang dan Yan 1993). Dalam satu studi (Buchkremer et al. 1995) tidak ada perubahan yang dicatat dalam permasalahan keluarga diasosiasikan dengan penyakit pasien, tetapi hubungannya menunjukkan peningkatan kehangatan dan mengurangi permusuhan kepada pasien.

Studi ini termasuk tinjauan perubahan durasi dimana strategi BFT diterapkan dari 6 bulan sampai 4 tahun, dengan kebanyakan studi menyedikan pengobatan ini selama 9-12 bulan. Hal ini nyata bahwa keuntungan bertahan, dan trend terhadap penyembuhan klinis dan sosial berlanjut, ketika pendekatan pengobatan berlanjut tanpa modifikasi utama melalui periode studi (Falloon et al. 1985; Hogarty et al. 1991; McFarlane et al. 1995a, 1995b, 1996). Dalam kasus dimanan pengobatan tidak berlanjut, dicatat bahwa penghentian stres yang akan datang dari program pengobatan yang berhasil mungkin mempunyai kontribusi untuk mengakses episode selama periode ini (Hogarty et al. 1991). Tetapi, penarikan BFT biasanya tidak diasosiasikan dengan gencatan dengan segera dari keuntungan klinis yangnyata kelihatan. Studi yangmemeriksa keuntungna klinis setidaknya lebih dari 2 tahun menunjukkan 23% keuntungan BFT dalam meminimalkan episode klinis utama (Falloon et al. 1985, 1986; Hogarty et al. 1991; Hornung et al. 1995; Leff et al. 1988; McFarlane et al. 1995a, 1995b, 1996; Tarrier et al. 1989).

 

Bidang Percobaan

Pusat utamam dinaikkan dengan tinjauan (Lam 1992; Lehman 1995; Pharohah et al. 2000) telah menjadi kemampuan untuk meningkatkan metode BFT dalam praktik klinis rutin atau bidang percobaan. Ada kecenderungan untuk menipiskan………………

 

 

Konseling Diperluas

Posted in Uncategorized on Juli 26, 2011 by novaozora

UPAYA PENCEGAHAN PEMAKAIAN MINUMAN KERAS

PADA ANAK DARI PECANDU ALKOHOL

MELALUI KONSELING KESEHATAN MENTAL

MODEL BLOOM-HELLER

 

Nova Ristya W.P. [*]

Abstrak

 

Salah satu masalah sosial yang paling serius dalam masyarakat Indonesia adalah kenakalan remaja yang dihasilkan oleh minuman keras. Banyak remaja Indonesia pada saat ini mengonsumsi minuman keras dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa faktor membawa mereka dalam keadaan tersebut. Antara lain faktor ketidakdewasaan, mental, pengaruh dari teman-teman mereka dan kehidupan buruk keluarga mereka. Terutama pada anak yang mempunyai orangtua seorang pacandu alkohol, karena hal itu bisa membuat anak tersebut meniru kebiasaan buruk orangtuanya dengan ikut mengonsumsi minuman keras. Itulah sebabnya solusi untuk mengatasi masalah sosial ini harus segera dilakukan. Salah satu dari begitu banyak cara yang harus dilakukan terhadap tujuan ini adalah untuk memberikan mereka konseling kesehatan mental dengan model Bloom-Heller. Konseling kesehatan mental ini dilaksanakan dengan memprioritaskan pendekatan pencegahan. Salah satu jenis pendekatan ini yaitu High Risk type prevention, konseling pendekatan ini diberikan kepada individu yang rentan atau memiliki resiko tinggi untuk mengalami suatu gangguan, seperti pada anak-anak yang orangtuanya adalah seorang pecandu minuman keras. Dengan adanya konseling ini setidaknya bisa memberikan perlindungan kepada anak dari lingkungan sekitarnya yang sudah rusakoleh alcohol, sehingga bisa mencegah mereka terjerumus ikut ke dalam hal tersebut.

 

Kata Kunci : Konseling Kesehatan Mental, Minuman Keras

 

 

PENDAHULUAN

Pembangunan, di mana pun, seperti yang berlangsung di Indonesia, selalu melahirkan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemajuan melahirkan pula perubahan sosial yang terlihat jelas pada perubahan dan pergeseran nilai-nilai dari nilai-nilai (lama) yang dianut dan diyakini baik oleh masyarakat kepada nilai-nilai (baru) yang tidak jarang merugikan orang per orang dan masyarakat pada umumnya. Bentuk-bentuk dari perubahan dan pergeseran nilai tersebut adalah pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika dan kebiasaan meminum minuman beralkohoL atau minuman keras.

Dalam keputusan WHO no. 650 th. 1980 menyatakan bahwa mengkonsumsi minuman ber-alkohol dapat mengganggu kesehatan dan menimbulkan dampak negatif yang dapat mengalahkan dampak negatif mengkonsumsi opium dan kokain serta segala jenis narkoba lainnya. Bahaya yang diakibatkannya terlalu banyak untuk dihitung.

Sebuah fenomena baru yang makin lama makin menguat dalam kehidupan sosial masyarakat kita adalah kecanduan remaja terhadap minuman keras, minuman keras-sebagai’ minuman berakohol memabukkan adalah bagian dari bahan konsumsi yang makin dibutuhkan: oleh remaja. Status minuman berakohol sebagai barang dagangan/komoditi yang beredar bebas (lawful) dan lüas’selain tembakau, rokok dan bahan pelarut Organik lainnya makin menguatkan rangsangan kecanduan remaja terhadap minuman tersebut. Di toko-toko besar, pasar swalayan, ‘supérmaket, juga di warung-warung kecil, minuman keras banyak tersedia dan dijual secara bebas.

Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan ada kecenderungan bahwa jumlah remaja yang meminum minuman keras terus meningkat. Zakiah Daradjat, umpamanya mengatakan semakin banyak kedatangan remaja yang punya masalah dengan alkohol, dan demikian pula dengan Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), Jakarta yang tiap hari kedatangan sekitar enam sampai delapan orang yang kecandungan alkohol (Lihat Republika 1 Oktober 1993: 8).

Fahmi Saifuddin, seorang dokter dan asisten Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, dalam seminar sehari tentang antisipasi penyalahgunaan narkotika, psikotropika, alkohol dan zat adiktif lainnya yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Ahli Jiwa Indonesia (IDAJI) tanggal 16 April 1994 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia membenarkan fenomena ini. Dia menyatakan, bahwa dalam dua tahun terakhir jumlah penyalahgunaan narkotika, alkohol dan zat adiktif lainnya yang sebagian besar dilakukan anak remaja kian meningkat. yang disalahgunakan oleh kalangan remaja ini adalah opioida, kokain, ganja, sedativa hiptonika dan alkohol (Lihat Terbit, 18 April 1994: 5).

Dalam kesempatan seminar yang sama, Satya Joewana, Kepala Seksi Medik Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) yang juga Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Universitas Atma Jaya, Jakarta, menyatakan bahwa hingga akhir tahun 1993 berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas bersangkutan, sebagian besar penyalahguna zat adiktif adalah pelajar, yaitu 54% pelajar SLTA, 24,5% mahasiswa, perguruan tinggi, 18% pelajar SLTP, dan 3,3% pelajar SD (Lihat Terbit, 18 April 1994: 5). Ini berarti bahwa penyalahguna zat-zat adiktif tersebut, termasuk alkohol, mencakup semua lapisan masyarakat yang berusia muda, terutama mereka yang duduk di bangku sekolah lanjutan.

 

MINUMAN KERAS

Minuman keras adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psiko aktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Dari sudut etimologi kosa kata khamr adalah bahasa Arab yang artinya menutupi. Menurut ahli bahasa, khamr disebut khamr karena ia menutupi akal pikiran. Oleh sebab itu, dari segi bahasa semua yang menutupi akal pikiran dapat disebut khamr (Ibn Rusyd, 1960: 471 – 472). Artinya, khamr adalah sejenis minuman yang mengandung unsur tertentu yang bila diminum unsur tersebut akan cepat bereaksi terhadap daya kerja otak, sehingga kemampuan berpikir otak menjadi berkurang atatu hilang.

Alkohol itu sendiri, secara umum, dipahami sebagai senyawa kimiawi yang memabukkan. “Secara kimiawi, zat alkohol beraneka macam, dan yang digunakan dalam minuman keras adalah etil alkohol (etanol), yaitu persenyawaan C2H5OH berupa cairan jernih, tidak berwarna, berbau enak, mudah terbakar, bercampur baik dengan air dan eter. Etanol dibuat antara lain dengan peragian pelbagai karbohidrat (Pudjaätmaka,’1989:070).

Faktor penyebab ramaja meminum minaman keras

Dalam psikologi perkembangan, remaja digambarkan berada dalam masa labil, yang di dalamnya terbentang masa penuh gejolak dan tekanan yang memancing mereka menemukan dunianya sendiri. Sering pula dikatakan, dalam masa ini remaja berusaha menemukan identitas dirinya. Identitas diri adalah suatu yang abstrak, yang sulit dirumuskan, kecuali sebagai keterangan tentang siapakah saya, apakah saya dan di mana tempat saya (who am I, what am I and were I belong to). Kondisi mental dan kepribadian yang labil inilah nantinya yang dapat mendorong remaja terlibat dalam kebiasaan meminum minuman keras sebagai pelepasan dan jalan keluar dari gejolak, kegoncangan dan segala bentuk tekanan yang mereka alami, sehingga mereka berani melanggar dan berperilaku menyimpang dari ketentuan-ketentuan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Mulyana W. Kusuma (1988: 86) membenarkan bahwa perilaku meminum minumkan keras sebagai drinking behavior memang telah menjadi gejala sosial. Dalam hal ini dia membedakan dua tipe remaja pecandu alcohol (alkoholik), yaitu peminum yang kriminal dan yang bukan kriminal. Para remaja alkoholik yang bukan kriminal menikmati minuman keras pada saat mereka merasa harus memikul tanggung jawab berat dalam peranan-peranan konvensionalnya sebagai anak, kakak dan sebagainya.

Lebih lanjut, Thomas F .A. Plaut dan kawan-kawan, seperti dikutip oleh Soedjono Dirdjosisworo (1984: 109), tegas menyatakan alkoholisme adalah psikologis. Artinya, masalah ini dapat berhubungan dengan siapa saja, termasuk remaja. Apalagi remaja adalah suatu kelompok yang mengalami banyak masalah psikologis sesuai dengan tingkatan umurnya. Menurut mereka, kemungkinan peminum dan pemabuk dengan berbagai masalahnya mengalami perasaan nyaman dan kelegaan dengan minum alkohol. Atau ada di antara para pecandu pemabukan memiliki sifat-sifat pribadi yang apabila mendapat kesulitan dalam menghadapi dan menanggulangi depresi, frustrasi dan kegelisahan lari ke alkohol. Keluarga dan latar belakang sosialnya ikut pula memberikan andil terhadap perilaku meminum minuman keras pada remaja, karena orangtua sebuah keluarga berfungsi dan berperan dalam membentuk kepribadian awal anak.

Dampak Meminum Minuman Keras

Minuman keras tidak memberi manfaat apapun bagi kesehatan pada organ-organ tubuh dan berpengaruh buruk pada kesehatan mental. Minuman berakohol telah terbukti menjadi penyebab dari berbagai penyakit. Dari penyakit yang sederhana sampai.yang sangat berbahaya, seperti lever akan merusak jaringan hati (lever) gangguan penyerapan zat makanan dan mengakibatkan kurang gizi, meningkatkan tekanan darah, membuat denyut jantung menjadi tidak normal dan menurunkan nafsu seksual. Terhadap otak alkohol mengakibatkan hilangnya pengendalian diri, membuat sempoyongan, mengganggu kemampuan berbicara, menurunkan kemampuan intelektual, mengakibatkan hilangnya ingatan (block out), menyebabkan terjadinya amnesia, dan merusak jaringan saraf (Mohammad, 1993: 1). Kerusakan urat saraf atau yang disebut sebagai polyneuropathy lain juga berhubungan dengan sakit radang kantong perut dan pengerasan pada bagian hati (Dirdjosiswono, 1984: 110).

Kecuali beberapa jenis penyakit dan gangguan di atas, alkohol dapat pula menyebabkan gangguan cardiovascular dan terjadi kematian bila satu point (0,568 liter) etanol murni masuk ke dalam tubuh (Darwis, 1993:7). Alkohol ternyata juga dapat menyebabkan kemandulan/gangguan ketidaksuburan. Wanita yang kecanduan alkohol, tidak saja bisa mandul, melainkan juga menyebabkan anak yang dilahirkan cacat (Lihat Republika, 1 Oktober 1998).

Selain terhadap kesehatan fisik, minuman berakohol dapat pula mendatangkan gangguang kejiwaan dalam bentuk depresi, halusinasi, paranoid (terlalu curiga pada orang lain), dan sebagainya. Pengaruhnya terhadap kejiwaan seorang yang alkoholik dapat bersifat terlalu mementingkan diri sendiri, ketergantungan pada sesuatu atau orang lain, perasaan yang berlebihan mengenai kemampuan diri (perasaan megalomania), dan ketahanan yang rendah sekali terhadap ketagihan untuk minum alkohol (Dirdjosisworo, 1984: 111). Itu semua berarti kesehatan jiwa/mental orang yang mengkonsumsinya ikut terganggu. Namun demikian, bagi semua peminum alkohol, pengaruh terhadap kejiwaan, umumnya dapat dilihat dari jumlah per miligram alkohol dal;am per100 mililiter darah. Berikut disajikan tabel tentang kadar kandungan alcohol dalam darah dan pengaruhnya terhadap kejiwaan, lengkap dengan contoh jenis-jenis minuman kerasnya ( Susanto, 1993:8).

 

KONSELING KESEHATAN MENTAL MODEL BLOOM-HELLER

Konseling kesehatan mental berbeda dengan jenis pelayanan yang lain dalam beberapa hal :

  1. Agen konseling kesehatan mental ditempatkan di daerah yang mudah dijangkau oleh anggota masyarakat.
  2. Konseling kesehatan mental umumnya diarahkan untuk memfasilitiasi penegentasan masalah yang terjadi pada suatu komunitas.
  3. Staf professional dan para professional dilatih untuk mampu berinteraksi dengan anggota komuntias, termasuk bahasa yang digunakan anggota komunitas.
  4. Adanya tuntutan untuk menggunakan berbagai modalitas dalam konseling, termasuk pengembangan program yang inovatif.

Anggota tim konseling kesehatan mental berasal dari berbagai profesi, di antaranya psikiater, konselor, dan pekerja sosial. Konseling kesehatan mental dilaksanakan dengan memprioritaskan pendekatan pencegahan.

Bloom-Heller membagi pendekatan tindakan prevensi menjadi tiga, yakni pencegahan di masyarakat luas (community wide prevention), pencegahan type milestone (milestone type prevention), dan pencegahan type resiko tinggi (high risk type prevention) (Orford, 1992)

  1. Community wide prevention

Pada tahap pendekatan ini semua anggota masyarakat mendapatkan program pencegahan. Intervensi pencegahan pada tahap ini dilakukan baik melalui sekolah public, modifikasi persyaratan pelayanan public seperti pembubuhan flour pada air minum untuk mencegah gangguan pada gigi, mengembangkan suatu proyek untuk masyarakat tertentu. Sasaran dalam pendekatan ini mungkin besar (seluruh masyarakat satu daerah) atau kecil (masyarakat local atau tetangga), tetapi pada intinya tipe pendekatan ini menuntut seluruh anggota masyarakat untuk mendapatkan intervensi sehingga anggota masyarakat tercegah dari resiko mengalami suatu gangguan.

  1. Milestone type prevention

Prevensi tipe peringatan atau tanda-tanda (milestone) diarahkan komunitas yang sudah menunjukkan gejala-gejala akan mengalami gangguan tertentu dalam kehidupannya. Tindakan prevensi ini dapat dilakukan pada saat orang menjalani tahap perkembangan tertentu yang rawan dengan resiko munculnya gangguan, seperti masuk sekolah pertama kali, menikah di tahun pertama, pindah sekolah, pertama kali meninggalkan rumah, dipecat dari pekerjaannya, ditinggal mati oleh anak, istri, atau suaminya. Meski dapat melampaui tahapan-tahapan tersebut dalam kehidupannya, tetapi pendekatan pencegahan dalam tahap ini penting guna mencegah terjadinya gangguan yang lebih parah.

  1. High risk type prevention

Jenis prevensi resiko tinggi (high risk) diberikan kepada individu yang rentan atau memiliki resiko tinggi untuk mengalami suatu gangguan. Pendekatan ini contohnya diberikan kepada anak dari pecandu alcohol, individu yang mengalami masalah dengan obat-obatan, anak atau orang dewasa yang mengalami penyakit yang kronik, orang yang brusaha bertahan dari bencana alam seperti gempa bumi, kecelakaan perahu ataupun kapal terbang, dan lain-lain.

Implementasi Program Pencegahan

Di dalam mengimplementasikan program pencegahan pada suatu komunitas terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Dalton, Elias dan Wndersman (2001) menjelaskan beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mengimplementasikan program pencegahan, yakni:

  1. Lakukan pengamatan lingkungan
  2. Pastikan persetujuan yang kuat dari semua stakeholder
  3. Pastikan hubungan antara tujuan program pencegahan dengan misi inti dari komunitas tempat implementasi program
  4. Pertimbangan kerjasama dengan setting local
  5. Perkembangan yang kuat, kepemimpinan yang jelas
  6. Gambaran inovasi atau program dalam istilah yang sederhana, khususnya pada permulaan program
  7. Ketika program pencegahan diimplementasikan, pastikan implementasi prinsip dan elemen inti dari program tersebut
  8. Ukur implementasi program dan pencapaian tujuan program dari operasi seluruh program
  9. Carilah efek yang tidak diduga dari suatu program
  10. Rencanakan untuk melembagakan suatu program
  11. Kembangkan hubungan dengan program yang mirip pada setting yang lain.

Aplikasi Program Pencegahan

Aplikasi program pencegahan secara umum dapat dibagi menjadi dua, yakni program pencegahan yang beroerientasi pada individu (person centered) dan program pencegahan yang berorientasi di luar individu (beyond individuals). Berikut ini beberapa bentuk aplikasi kegiatan pencegahan dalam beberapa setting. Bentuk aplikasi pencegahan ini dibedakan berdasarkan pada orientasinya.

  1. Orientasi pada pribadi
    1. Program untuk masa kanak-kanak awal
    2. Program untuk masa kanak-kanak akhir
    3. Program untuk masa remaja
    4. Program untuk masa dewasa
    5. Orientasi di luar individu
      1. Sekolah
      2. Tempat kerja
      3. Komunitas Umum
      4. Intervensi pada tingkat kebijakan

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Konseling kesehatan mental dilaksanakan dengan memprioritaskan pendekatan pencegahan. Salah satu model pendekatan ini adalah Model Bloom-Heller. Salah satu jenis pendekatan ini yaitu High Risk type prevention, konseling pendekatan ini diberikan kepada individu yang rentan atau memiliki resiko tinggi untuk mengalami suatu gangguan, seperti pada anak-anak yang orangtuanya adalah seorang pecandu minuman keras.

Pada saat satu anggota keluarga terjerat oleh minuman keras, seluruh keluarga menjadi korban. Keluarga dan masyarakat di mana seseorang dibesarkan dapat mempengaruhi sikap orang tersebut dalam menjadi pecandu minuman keras. Kalau orangtua adalah pecandu minuman keras, maka anaknya cenderung menjadi peminum minuman keras pada masa dewasanya.

Anggota tim konseling kesehatan mental berasal dari berbagai profesi, diantaranya psikiater, konselor, dan pekerja sosial. Di lingkungan sekolah, para guru, siswa, administrator, dan orang tua merupakan stakeholder. Para stakeholder perlu dilibatkan dalam berdiskusi guna menentukan tujuan dari program pencegahan yang direncanakan. Denagn adanya tujuan yang mereka pahami, mereka akan memiliki dasar untuk membuat keputusan.

 

Saran

Pihak kedokteran memang tidak akan lepas dari para pemakai minuman keras, jika jasmani orang tersebut sudah sedemikian bergantung kepada rangsangan alkohol, ia tidak dapat menolong dirinya sendiri tanpa pertolongan seorang dokter, sedangkan konselor-konselor lebih efektif dalam menghidupkan semangat yang baru, dan meyakinkan konseli dalam bentuk pencegahan kepada mereka yang rentan terjerumus dengan menjadi pecandu alkohol. Seharusnya keluarga yang menjadi tempat pendidikan pertama anak lebih meningkatkan bagaimana mengajarkan pendidikan Agama sejak dini,p embinaan kehidupan rumah tangga yang harmonis dengan penuh perhatian dan kasih sayang, menjalin komunikasi yang konstruktif antara orang tua dan anak, orang tua memberikan teladan yang baik kepada anak-anak, serta diberikan pengetahuan sedini mungkin tentang minuman keras, jenis, dan dampak negatifnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Achir, Yaumil Agoes. 1991. “Meningkatkan Hubungan Orangtua dengan Remaja”, dalam Sanusi (ed.). Mengenal dan Memahami Masalah Remaja, Jakarta : Pustaka Antara PT.

Dalton, J.H., Elias, M.J.,& Wandersman, A. 2001. Community Psychology: Linking Individuals and Communities. Stamford: Wadsworth Thomson Learning.

Darwis, A.Azis. 1993. “Alkohol dan Minuman yang Mengandung Alkohol”. Makalah pada Muzakarah Nasional tentang Alkohol dalam Minuman yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, di Jakarta tanggal 30 September 1993.

Dirdjosisworo¿ Soedjono. 1984. Alkoholisme Paparan Hukum dan Kriminologi. Bandung, Remadja Karya CV.

Duffy, K.G.,& Wong, F.Y. 1996. Community Psychology. Boston: Allyn and Bacon.

http://www.mail-archive.com/i-kan-konsel@xc.org/msg00067.html. yang diakses tanggal 9 Mei 2010.

Orford, J. 1992. Community Psychology: Theory and Practice. Chicester: Jhon Wiley& Sons.

Susanto, Tri. 1993. “Alkoholisme Perlu Perhatian yang Serius”, Makalah pada Muzakarah Nasional tentang Alkohol dalam Minuman, yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jakarta, tanggal 30 September 1993.


[*] Nova Ristya W.P. adalah mahasiswa jurusan BK UNNES.

Operasionalisasi Layanan Bimbingan Kelompok

Posted in Uncategorized on Juli 26, 2011 by novaozora

Operasionalisasi Layanan Bimbingan Kelompok

 

No. Komponen Bimbingan Kelompok Uraian Kegiatan
1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perencanaan
  1. Mengidentifikasikan topik yang akan dibahas dalam kegiatan bimbingan kelompok (topik bebas).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pembentuk anggota

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Penyusunan jadwal kegiatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pemantapan prosedur layanan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Memantapkan fasilitas layanan.

 

 

 

  1. Menyiapkan kelengkapan administrasi.
  • Pemimpin kelompok menanyakan kepada anggota kelompok tentang topik yang akan dibahas, kemudian menentukan topik yang akan dibahas sesuai dengan kesepakatan dari  anggota kelompok. Topik tersebut dibahas bersama anggota kelompok secara tuntas sehinggga ditemukan simpulan yang dapat menambah informasi bagi masing – masing anggota.
  • Merekrut 10 orang untuk bergabung dalam kelompok, perekrutan anggota menggunakan pemberitahuan secara lisan langsung pada calon anggota kelompok. Setelah direkrut kelompok dimantapkan untuk benar-benar mengikuti kegiatan ini.
  • Kegiatan ini dimulai pada tahap :
  1. Perekrutan anggota pada bulan Maret dan April.
  2. Pendataan anggota pada bulan April
  3. Pelaksanaan kegiatan pada akhir bulan April.
  • Kegiatan ini dilaksanakan secara berkelompok dengan 10 anggota kelompok dan 1 pemimpin kelompok dengan membahas topik yang bersifat umum di mana topik yang dibahas sesuai dengan kesepakatan dengan anggota kelompok.
  • Menyiapkan tempat yang nyaman dan kondusif.
    • Menyiapkan alat tulis
    • Menyiapkan konsumsi
    • Menyiapkan daftar hadir.
    • Menyiapkan lembar resume pelaksanaan kegiatan kelompok.
2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelaksanaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Mengkomunikasikan rencana layanan bimbingan kelompok

 

 

  1. Menkoordinasikan kegiatan bimbingan kelompok

 

 

  1. Menyelenggarakan layanan bimbingan kelompok melalui tahap pelaksanaannya :
    1. pembentukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. peralihan

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. kegiatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. tahap pengakhiran

 

 

 

 

 

 

 

  • Memberitahu kepada anggota mengenai waktu, tempat , guna pelaksanaan kegiatan kelompok
  • Pengecekan tempat kegiatan.
  • Memeriksa kelengkapan anggota kelompok

 

 

 

 

  • Menerima kehadiran anggota kelompok secara terbuka dan mengucapkan terimakasih
  • Memimpin doa
  • Mengungkapkan pengertian dan tujuan kegiatan bimbingan kelompok dalam rangka pelayanan BK
  • Menjelaskan cara dan azas-azas kegiatan bimbingan kelompok
  • Perkenalan dilanjutkan dengan permainan rangkai nama.
  • Menumbuhkan suasana kelompok yang bebas dan terbuka.
  • Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya
  • Mengamati apakah para anggota kelompok sudah siap menjalani kegiatan ini pada tahap selanjutnya.
  • Pemimpin kelompok mengemukakan topik bahasan yang telah ditentukan
  • Menjelaskan pentingnya topik tersebut dibahas dalam kelompok
  • Anggota kelompok membahas topik tersebut secara tuntas dengan ditarik kesimpulan yang dapat menambah informasi bagi anggota kelompok itu sendiri.
  • Pemimpin kelompok mengemukakan bahwa kegiatan akan segera diakhiri
  • Pemimpin meminta anggota untuk mengemukakan kesan-kesan dari kegiatan ini
  • Mengemukakan pesan dan pendapat atau harapan anggota kelompok
  • Pendataan anggota yang hadir
  • Ucapan terimakasih
  • Berdoa
  • Perpisahan
3. Evaluasi
  1. Menetapkan materi evaluasi

 

 

 

 

 

 

  1. Mantapkan prosedur evaluasi

 

 

 

  1. Menyusun instrumen evaluasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Mengoptimalkan instrumen evaluasi

 

 

 

  1. Mengolah hasil aplikasi instrumen

 

 

 

  • Materi evaluasi ditetapkan dengan evaluasi proses, yaitu dengan melihat partisipasi dan keaktifan anggota kelompok pada saat kegiatan
  • Membuat kriteria berupa perkembangan positif yang terjadi pada diri anggota kelompok.
  • Instrumen evaluasi berupa :
  1. Pengamatan aktivitas peserta selama kegiatan berlangsung
  2. Pemahaman peserta akan materi yang dibahas
  3. Pesan dan kesan peserta
  4. Minat dan harapan peserta akan kemungkinan kegiatan berlanjut
  5. Kelancaran proses kegiatan
  • Melaksanakan setiap rancangan instrumen yang telah dibuat, sehingga tujuan bisa tercapai.
  • Setiap hasil kegiatan / pengaplikasian instrumen dianalisis guna menentukan intrumen pada tahap berikutnya.
4. Analisis hasil evaluasi
  1. Menetapkan norma atau hasil evaluasi

 

 

 

 

  1. Melakukan analisis

 

 

 

 

 

 

  1. Penafsiran hasil analisis
  • Menetapkan norma hasil evaluasi dengan melihat perkembangan dan pemahaman yang terjadi pada seluruh anggota kelompok.
  • Hasil evaluasi berupa perkembangan kelompok dianalisis, sebagai pedoman mengenai kegiatan apa yang perlu dilakukan pada tahap berikutnya
  • Membuat resume hasil analisis kegiatan
  • Menafsirkan hasil analisis apakah pembahasan topik perlu dilanjutkan atau tidak
5. Tindak lanjut
  1. Menetapkan jenis dan arah tindak lanjut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Mengkomunikasikan rencana tindak lanjut kepada pihak yang terkait

 

 

 

 

 

 

  1. Melaksanakan rencana tindak lanjut
  • Mengadakan bimbingan kelompok selanjutnya bila diperlukan.
  • Membuat kegiatan berupa layanan dengan mengikutsertakan anggota yang bersangkutan secara aktif sehingga pelayanan sebelumnya dapat terselesaikan secara tuntas
  • Pemimpin kelompok mengemukakan tindak lanjut dari kegiatan bimbingan kelompok kepada masing-masing anggota yang sekiranya membutuhkan tindakan lanjutan
  • Pemimpin kelompok bersama anggota melaksanakan rencana tindak lanjut yang telah disusun.

 

6. Laporan
  1. Menyusun laporan layanan bimbingan kelompok

 

 

 

  1. Menyampaikan kepada pihak terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Mendokumentasikan laporan layanan
  • Membuat laporan yang berisi seluruh kegiatan yang telah dilakukan mulai dari tahap pembentukan sampai pengakhiran.
  • Laporan yang telah selesai dibuat disampaikan kepada dosen yang bersangkutan sebagai bentuk laporan bahwa mahasiswa tersebut telah melaksanakan kegiatan bimbingan kelompok.
  • Membuat dokumentasi layanan dalam bentuk laporan .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR HADIR KEGIATAN BIMBINGAN KELOMPOK

 

 

Pertemuan ke              :

Hari, Tanggal              :

Waktu                         :

Tempat                        :

 

 

No.

Nama

NIM

Jurusan

Tanda tangan

1.

       

2.

       

3.

.      

4.

       

5.

       

6.

       

7.

       

8.

       

9.

       

10.

       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DATA PRIBADI ANGGOTA KELOMPOK

 

 

 

Nama Lengkap          :

Nama Panggilan        :

Tempat, Tgl lahir      :

Alamat Rumah          :

Alamat di Kos            :

No HP                         :

Agama                        :

Hobi                            :

Cita-cita                      :

Motto Hidup              :

 

 

 

 

                                                                                                      Tanda Tangan

 

 

 


                       

 

 

 

Identifikasi Kebutuhan Masalah Siswa

Posted in Uncategorized on Juli 26, 2011 by novaozora

Identifikasi  Kebutuhan dan Masalah Siswa

 

 

Disusun oleh :

Abdul Chamid, S.Pd.,Kons.

Khusnul Khotimah, S.Pd.

Drs. HM. Gunawan Wibisono, Kons.

Drs. Slamet Riyadi, Kons.

Andori, S.Pd.,Kons.

Supeni, S.Pd.,Kons.

LEMBAGA KONSELING PRIBADI, KELUARGA, KARIR DAN PSIKOTES

Kantor Pusat  :  Jl. Semeru No.246 Telp.(0283)3321756  Slawi Kabupaten Tegal.

Cabang Kartosuro :Waringin Rejo Rt.4 Rw.19 Gang Merpati Cemani Grogol HP. 081329020645

Cabang Batang :   Sidoarjo Rt. 01 Rw. 08 Subah Batang Telp. (0285)667024

Cabang Pemalang:Klegen Rt.03 Rw.02 Comal Pemalang HP.081548151888

 

PETUNJUK PENGISIAN.

 

Instrumen IKMS ini bukanlah sebuah tes ataupun ujian, melainkan sebuah alat yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang mengganggu siswa berkaitan dengan tugas perkembangan peserta didik tingkat sekolah menengah kejuruan ( SMK ) yang berhubungan dengan masalah-masalah  pribadi, sosial, belajar dan karier.

 

Diharapkan Anda membaca, kemudian menjawab dengan jujur dan sungguh-sungguh, agar dapat dipergunakan sepenuhnya untuk membantu mengatasi permasalahan yang sedang Anda hadapi, dan dapat dipergunakan untuk memberikan pelayanan bimbingan dan konseling secara tepat. Semua jawaban Anda sepenuhnya akan dirahasiakan.

 

Langkah pengisian :

  1. Baca daftar masalah dengan teliti, dan beri tanda silang ( X ) pada nomor di lembar jawab yang sesuai dengan keadaan diri Anda saat ini.
  2. Bila ada permasalahan lain yang tidak terdapat dalam daftar masalah, silahkan isikan pada kolom titik-titik yang disediakan dalam lembar jawab.
  3. Baca kembali semua jawaban Anda, kemudian cantumkan nomor-nomor yang dirasa sangat berat atau sangat mengganggu pada kolom yang disediakan dalam lembar jawab.

 

Mohon tidak memberikan tulisan atau coretan apapun pada buku instrumen IKMS ini, agar buku instrumen ini tetap bersih.

 

 

Terima kasih.

 

KES Konseling Tegal

 

 

 

 

1

 

 

  1. Bacalah dengan seksama pernyataan-pernyataan permasalahan berikut ini dan tandailah masalah-masalah yang menjadi keluhan dan sedang mengganggu Anda sekarang ini dengan cara memberi tanda silang (X) pada nomor masalah yang sesuai pada lembar jawab yang di sediakan.

 

001     Ingin mengenal lebih dalam tentang fasilitas kesehatan yang disediakan sekolah.

002     Sukar menyesuaikan diri dengan keadaan sekolah.

003     Ingin mengenali lebih dalam pada sarana dan kegiatan ibadah yang ada di sekolah.

004     Kurang mengenal  jenis kegiatan sekolah yang bisa digunakan untuk mengisi waktu senggang.

005     Kurang mengenal tentang  koperasi dan kantin sekolah.

006     Ingin mengenal lebih dalam dengan teman dalam satu kelas.

007     Ingin mengetahui tentang kegiatan solidaritas yang menjadi program sekolah.

008     Kurang mengetahui organisasi yang ada di sekolah.

009     Ingin  mengenal lebih dalam dengan semua guru dan karyawan di sekolah.

010     Ingin mengenal dengan keanggotaan komite sekolah.

011     Ingin mengenal tentang struktur kurikulum yang berlaku saat ini.

012     Ingin mengenal program yang diselenggarakan sekolah dalam meningkatkan kemampuan berbahasa asing.

013     Ingin mengetahui sarana multimedia yang ada di sekolah.

014     Ingin mengenal program sekolah berkaitan dengan kemampuan TIK siswa.

015     Kurang mengenal  semua fasilitas yang mendukung proses belajar di sekolah.

016     Membutuhkan pengenalan ekstrakurikuler yang menunjang belajar saya.

2

017     Ingin mengenal pekerjaan yang berkaitan dengan kesehatan yang mendukung cita-cita saya.

178     Saya memiliki masalah dengan teman berkaitan dengan pilihan ekstra kurikuler yang saya ambil.

179     Orang tua tidak setuju pada rencana dunia kerja pilihan saya.

180     Beda pendapat dengan saudara berkaitan dengan pilihan jurusan yang saya ambil.

  1. Tulislah masalah yang Anda alami saat ini yang  tidak terdapat dalam pernyataan-pernyataan di atas pada lembar jawab yang telah disediakan.

 

  1. Lihatlah kembali masalah-masalah yang telah Anda tandai. Dari masalah-masalah tersebut, cantumkan  nomor-nomor masalah yang amat berat atau amat mengganggu Anda saat ini pada lembar jawab yang telah disediakan.

-o0   TERIMA KASIH   0o-

11

 

159     Memiliki teman yang tidak berminat melanjutkan padahal menurut saya dia mampu.

160     Ingin membantu teman yang mengalami kesulitan memperoleh informasi tentang dunia kerja.

161     Saya memiliki masalah dengan salah seorang guru yang tidak mengetahui bahwa saya memiliki kelemahan fisik.

162     Dimusuhi / dibenci  guru tanpa tahu sebabnya.

163     Saya sedang punya masalah dengan salah seorang guru yang mengetahui di HP saya ada gambar tidak layak.

164     Saya punya masalah dengan teman sepermainan.

165     Saya memiliki masalah dengan orang tua berkaitan dengan keuangan.

166     Saya memiliki masalah dengan teman sekelas.

167     Saya sedang konflik dengan seseorang dari kakak / adik kelas.

168     Saya sedang bermasalah dengan pacar saya.

169     Saya memiliki masalah dengan tetangga.

170     Saya sedang didiamkan salah seorang anggota keluarga.

171     Saya memiliki masalah dengan petugas perpustakaan, sehingga menjadikan berkunjung masuk ke sana.

172     Saya sedih karena memiliki masalah dengan salah seorang guru mata pelajaran.

173     Kurang semangat belajar karena orang tua tidak membelikan sarana belajar yang pernah dijanjikan.

174     Guru pilih kasih, dan saya tidak diikutkan dalam olimpiade / kejuaraan.

175     Saya sedang memiliki masalah dengan petugas laboratorium, berkaitan dengan peralatan sekolah.

176     Merasa disisihkan pembina ekstra kurikuler dalam berbagai kegiatan.

10

177     Orang tua memaksa untuk mengikuti pilihan karier  masa depan saya.

018     Ingin mengenal tentang jenis pekerjaan jasa.

019     Ingin mengenal tentang sistem  belajar di perguruan tinggi atau bekerja.

020     Ingin  mengetahui syarat memasuki pada dunia kerja.

021     Membutuhkan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja.

022     Ingin mengetahui tentang obat-obatan terlarang dan dampaknya.

023     Membutuhkan informasi tentang  kultur sekolah.

024     Kekurangan informasi tentang cara mengisi waktu luang.

025     Membutuhkan informasi pekerjaan yang bisa dilakukan sambil belajar.

026     Membutuhkan informasi tentang cara berkomunikasi yang baik.

027     Ingin mengetahui cara membina hubungan baik dengan teman lawan jenis.

028     Membutuhkan keterangan tentang persoalan seks, pacaran, dan perkawinan.

029     Membutuhkan informasi tentang bagaimana melepaskan diri dari lingkungan pertemanan yang kurang mendukung cita-cita.

030     Ingin mengetahui tentang sikap yang harus dilakukan saat berbeda pendapat dengan orang tua.

031     Kekurangan informasi tentang kesulitan menumbuhkan semangat belajar yang menurun.

032     Membutuhkan informasi tentang cara belajar yang efektif dan efisien.

033     Kurang mengetahui cara memanfaatkan TIK dalam belajar.

034     Membutuhkan informasi tentang cara mempersiapkan diri menghadapi tes / ujian.

035     Membutuhkan informasi cara belajar kelompok.

036     Kekurangan informasi tentang bagaimana memilih kegiatan ekstra kurikuler yang cocok.

3

037     Membutuhkan informasi tentang berbagai jenis pekerjaan yang memiliki prospek bagus di masa depan.

038     Ingin mengetahui tentang cara menyusun persyaratan melamar pekerjaan.

039     Kekurangan informasi tentang dunia kerja yang dapat dimasuki setamat sekolah ini.

040     Membutuhkan informasi tentang strategi memasuki dunia kerja.

041     Memiliki kelemahan pada  pendengaran / penglihatan,  untuk itu ingin pindah duduk di depan.

042     Kurang senang  dengan kondisi kelas.

043     Tidak mempunyai kawan akrab untuk bersama dalam beribadah.

044     Tidak mempunyai kawan akrab untuk bersama-sama mengisi waktu senggang.

045     Bingung memilih antara melanjutkan atau tidak,  karena keadaan ekonomi keluarga yang sedang menurun.

046     Kurang senang dengan teman sebangku.

047     Tidak lincah dan kurang mengetahui tata krama pergaulan.

048     Bingung memilih di antara dua orang yang sama-sama disenangi.

049     Tidak betah dengan keadaan lingkungan rumah yang ramai.

050     Sulit memilih antara ikut ayah atau ibu yang sekarang sudah berpisah.

051     Kurang meminati pelajaran atau program jurusan yang dimasuki.

052     Sulit menentukan teknik belajar yang sesuai dengan diri saya.

053     Tidak nyaman belajar di rumah yang kondisinya sempit.

054     Kelompok belajar tidak cocok.

055     Tidak tenang bila duduk di depan, untuk itu ingin pindah ke belakang.

056     Ingin mengikuti kegiatan pelatihan atau kursus tertentu yang benar-benar menunjang proses mencari dan melamar pekerjaan setamat pendidikan.

057     Bingung memilih lembaga kursus belajar yang sesuai.

058     Wajib mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang tidak saya sukai.

4

059     Pesimis masuk di sekolah karena masa depan tidak jelas.

142     Ingin membantu teman yang memiliki kebiasaan latah.

143     Ingin membatu teman yang belum mau melaksanakan ibadah sesuai dengan agamanya.

144     Memiliki sahabat yang tidak pernah memiliki waktu senggang untuk rekreasi.

145     Ingin membantu kawan yang karena terlalu berhemat menjadi sering sakit-sakitan.

146     Memiliki kawan akrab yang merasa dirinya lebih hebat dari lainnya, sehingga sering konflik dengan lingkungan.

147     Ingin membantu teman yang selalu minder bila bertemu lawan jenis,

148     Ingin membantu kawan akrab yang baru saja diputus oleh pacarnya.

149     Ingin membantu teman yang tidak betah di rumah.

150     Ada teman yang memiliki masalah dengan orang tuanya.

151     Ingin membantu teman yang sulit belajar karena memiliki cacat fisik.

152     Bingung memikirkan teman saya yang setiap kali diajar sulit memperhatikan dan cenderung mengganggu yang lain.

153     Bingung pada teman yang tidak memiliki sarana belajar yang memadai, sehingga sering menggunakan peralatan saya.

154     Kesulitan menghadapi teman sebangku yang tidak memiliki motivasi belajar.

155     Saya memiliki teman yang setiap hari melemahkan semangat belajar saya.

156     Ingin membantu teman yang sampai sekarang masih bingung menyusun cita-cita masa depan.

157     Ingin membantu teman yang masih kesulitan dalam memilih jenis ekstra kurikuler yang harus diikuti.

9

158     Memiliki teman yang setiap hari mengeluhkan keadaan dirinya yang saat ini disuruh bekerja oleh orang tuanya.

121     Merasa secara jasmaniah kurang menarik.

122     Sering murung dan merasa tidak bahagia.

123     Dilanda ketakutan akibat pernah melanggar norma agama.

124     Kurang berminat atau tidak ada hal yang menarik dalam memanfaatkan waktu senggang yang ada.

125     Mengalami masalah karena ingin berpenghasilan sendiri.

126     Mudah tersinggung atau sakit hati dalam berhubungan dengan orang lain.

127     Kurang mendapat perhatian dari lawan jenis.

128     Pernyataan cinta saya ditolak secara terang-terangan.

129     Bermasalah karena di rumah ada anggota keluarga lain.

130     Ingin mengatasi kondisi keluarga yang sedang dilanda prahara.

131     Mengalami masalah  dalam pemahaman penggunaan bahasa / istilah asing.

132     Kesulitan membaca cepat atau memahami isi buku pelajaran.

133     Memiliki masalah dengan sarana belajar yang sering digunakan oleh anggota keluarga lain.

134     Sering gelisah saat pelajaran berlangsung, sehingga  berusaha menghilangkannya dengan melakukan kegiatan lain.

135     Khawatir tugas-tugas pelajaran hasilnya kurang memuaskan.

136     Cemas kalau menjadi penganggur setelah menyelesaikan pendidikan.

137     Khawatir tidak mampu menamatkan sekolah dan harus segera bekerja.

138     Untuk memenuhi keuangan terpaksa sekolah sambil bekerja.

139     Tidak bersemangat untuk melanjutkan sekolah.

140     Lulus sekolah ingin bekerja, tetapi orang tua menghendaki untuk melanjutkan pendidikan.

8

141     Memiliki teman yang selalu mengeluhkan dirinya memiliki tubuh terlalu gemuk / kurus.

060     Belum memiliki rencana yang pasti untuk pemilihan dunia kerja.

061     Kurang percaya diri dengan bentuk tubuh yang saya miliki.

062     Kurang  mampu mengendalikan diri, berpikir dan bersikap positif.

063     Ingin bisa meningkatkan ibadah keagamaan.

064     Kurang bisa memanfaatkan waktu senggang.

065     Tidak mampu mengelola uang saku dengan baik.

066     Sulit  mematuhi tata tertib sekolah.

067     Sulit  mendengarkan dan memahami pendapat orang lain.

068     Kesulitan bila berbicara dengan lawan jenis.

069     Tidak bisa melihat kebaikan orang lain dan menirunya.

070     Sulit  memelihara pakaian dan peralatan rumah tangga yang dimiliki.

071     Sulit  menyusun jadwal belajar di rumah dan di sekolah.

072     Sering kali tidak siap menghadapi ujian.

073     Sulit  membuat laporan kegiatan / tugas pelajaran.

074     Ingin  menghilangkan rasa takut saat mengikuti pelajaran.

075     Sulit  bertanya dan menjawab di dalam kelas.

076     Banyak pamflet sekolah lanjutan yang saya baca, tetapi belum satupun yang menarik perhatian dan minat saya.

077     Ingin  menyalurkan bakat yang mengarah karier tertentu.

078     Mengalami kesulitan menyalurkan hobi karena keterbatasan fisik.

079     Saya memiliki kebiasaan-kebiasaan kurang baik yang menghambat dalam menyalurkan bakat.

080     Tidak memiliki kemampuan mengirim pendaftaran dunia kerja secara online.

081     Saya  malu dan kurang terbuka dalam membicarakan masalah seks, pacar dan jodoh.

5

 

082     Saya selalu khawatir tidak mendapatkan pacar atau jodoh yang baik/cocok.

083     Saya mengalami masalah setiap hendak pergi ke tempat peribadatan.

084     Saya merasa bingung akan melakukan kegiatan apa, sepulang sekolah atau saat libur sekolah.

085     Saya mengalami kesulitan masalah keuangan keluarga.

086     Merasa diperhatikan, dibicarakan atau diperolokkan orang lain.

087     Cinta saya tidak ditanggapi oleh orang yang saya cintai.

088     Bingung ingin memutus hubungan dengan pacar yang sekarang tidak ada kecocokan.

089     Minder dengan teman di kelas.

090     Orang tua tidak menghendaki saya sekolah di sekolah ini.

091     Takut bertanya / menjawab di kelas.

092     Setiap belajar sulit  masuk / memahami.

093     Tidak semangat belajar karena fasilitas belajar kurang memadai.

094     Merasa sebagai anak yang paling bodoh di kelas.

095     Orang tua kurang peduli terhadap kegiatan belajar saya.

096     Saya khawatir akan pekerjaan yang dijabat nantinya tidak memberikan penghasilan yang mencukupi.

097     Bingung belum memiliki cita-cita.

098     Ragu pada tercapainya cita-cita karena orang tua tidak sejalan.

099     Pesimis untuk melanjutkan pendidikan karena biaya sekolah mahal.

100     Merasa tidak memiliki kemampuan kecerdasan yang cukup untuk melanjutkan pendidikan.

101     Ingin mengetahui  bahaya rokok, miras dan narkoba.

102     Kurang memahami adanya perbedaan individu.

103     Ingin tahu penyebab dan dampak  tawuran.

6

104     Ingin mengetahui cara mengisi waktu luang dengan kegiatan positif.

105     Ingin mengetahui bagaimana caranya untuk memperoleh beasiswa untuk meringankan beban biaya sekolah

106     Ingin tahu  tentang toleransi dan solidaritas.

107     Kurang mengetahui tentang  bagaimana hubungan muda-mudi yang wajar dan sehat.

108     Membutuhkan penjelasan tentang mengendalikan perasaan cinta dan pacaran.

109     Kurang mengetahui bagaimana sebaiknya saya berperan dalam lingkungan di sekitar rumah.

110     Kurang tahu  dampak kebiasaan sehari-hari  di rumah terhadap cita-cita.

111     Tidak tahu kiat-kiat belajar mandiri.

112     Ingin  memanfaatkan secara maksimal buku-buku yang ada di perpustakaan.

113     Ingin tahu cara membuat suasana belajar di kelas menjadi nyaman.

114     Ingin mengetahui dampak menyontek pada saat ulangan bagi masa depan.

115     Kurang yakin terhadap kemampuan pendidikan sekarang ini dalam menyiapkan jabatan tertentu.

116     Kurang memahami tentang bagaimana cara  memilih pekerjaan.

117     Ingin lebih tahu lebih dalam mengenai banyaknya penipuan lowongan pekerjaan yang ada pada media.

118     Ingin tahu lebih dalam mengenai pasar bursa dan persyaratannya.

119     Kurang memahami pengaruh pendidikan dengan keberhasilan dalam karier.

7

120     Memiliki  rasa pesimis dengan semakin ketatnya persaingan dalam masuk dunia kerja.