Bimbingan Karier

BIMBINGAN KARIER

 

A. Pendidikan Karier

               Bagi manusia muda, pendidikan sekolah akhirnya akan bermuara pada suatu jabatan yang diharapkan akan bermakna bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat. Kenyataan ini dapat diantisipasi dengan mempersiapkan orang muda melalui usaha-usaha pendidikan yang mengidahkan arti “bekerja” dalam kehidupan manusia dan kekhususan dari perkembangan karier. Usaha-usaha ini diwujudkan dalam apa yang disebut pendidikan karier atau pendidikan jabatan (career education). Secara formal pendidikan karier belum dikenal dalam dunia pendidikan sekolah di Indonesia, paling sedikit tidak sebagai usaha yang berlingkup lebih luas dari pada bimbingan karier dan sebagai komponen dalam program pendidikan sekolah yang melibatkan lebih banyak tenaga pendidik dari pada unsur personil bimbingan.

Istilah career education dicanangkan oleh Sidney J. Marland, Jr., Menteri Pendidikan Amerika Serikat, pada tahun 1971 dalam suatu makalah dalam pertemuan The National Association of Secondary School Principals. Dalam amanatnya Marland mendesak supaya para siswa di sekolah menengah dibekali keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk dapat hidup mandiri.

Dalam bukunya Career Education: from Concept to Reality (1979),Bruce Reinhart mendeskripsikan career education sebagai usaha dalam lingkungan pendidikan sekolah dan masyarakat luas untuk membantu semua individu selama seluruh kehidupannya untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut : (1) mengenal berbagai jenis jabatan yang terbuka baginya dan sekaligus dermakna serta memuaskan, dan menghayati semua nilai yang diamali oleh masyarakat yang berorientasi pada kerja; (2) menjadi mampu untuk mengambil keputusan rasional sehubungan dengan tujuan-tujuan yang ingin diperjuangkan dalam bidang kegiatan/aktivitas vokasional; (3) melaksanakan keputusan tadi secara nyata dalam bentuk mengintegrasikan semua nilai yang terkandung dalam bekerja (vocational values) serta semua sikap yang dituntut dalam bekerja (vocational attitudes) dalam keseluruhan gaya hidupnya.

 

 

Sebagai hasil dari proses pendidikan karier di sekolah ini, peserta didik pada masing-masing jenjang pendidikan sekolah diharapkan akan : (1) memiliki bekal akademik, sehingga dapat menyesuaikan diri dengan fluktuasi perubahan dalam masyarakat; (2) mempunyai tata cara bekerja yang baik dan tepat dalam melakukan apa saja (good work habits); (3) berpegang pada nilai-nilai yang mendorong mereka mau bekerja keras; (4) menguasai cara yang tepat untuk mengambil keputusan tentang jabatan dan melamar pekerjaan di pasar kerja; (5) memilki keterampilan umum serta yang memungkinkan untuk mengikuti program latihan lebih luas dan mendalam dalam lingkungan jabatannya kelak (trainable); (6) sudah mengambil keputusan, berdasarkan pertimbangan matang terhadap data dan fakta tentang diri sendiri serta penawaran kesempatan memperoleh pendidikan tambahan, sebelum akan memasuki lingkungan suatu jabatan.

Dalam makalahnya yang berjudul Suatu Strategi Bimbingan Karier dalam Pembangunan Nasional (1983), P.M. Hattari menjelaskan bahwa istilah bimbingan karier merupakan istilah yang relative baru. Kalau di masa yang lampau digunakan istilah bimbingan jabatan, yang memberikan tekanan pada penyebaran informasi dan pengolahannya dalam wawancara konseling, dewasa ini digunakan istilah bimbingan karier yang menitikbertkan perancanaan masa depan dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dan keadaan dalam lingkungan hidup. Dalam buku Kurikulum Pedoman Bimbingan dikatakan bahwa program bimbingan karier di sekolah khusus bertujuan : “agar siswa mampu : (1) memahami diri, dunia kerja serta factor-faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memilih program atau jurusan secara tepat; (2) memiliki sikap positif terhadap diri sendiri serta pandangan yang obyektif dan maju terhadap dunia kerja; (3) membuat keputusan yang realistis tentang karier yang dipilih sesuai dengan kemampuannya”. Selanjutnya dikatakan bahwa “kegiatan bimbingan karier secara khusus berfungsi menjembatani dunia pendidikan dengan dunia kerja, Hal ini berarti bahwa kegiatan bimbingan bermaksud membantu siswa dalam merencanakan masa depannya secara terarah dan terencana.”

 

 

B. Layananan Bimbingan “Penempatan”

Penenmpatan (Placement) merupakan salah satu komponen bimbingan. Komponen ini mencakup semua usaha membantu siswa dan mahasiswa merencanakan masa depannya selama masih di sekolah, dan sesudah tamat dalam mengambil program studi tertentu sebagai studi lanjutan atau langsung mulai bekerja. Tujuan dari layanan bimbingan ini ialah, supaya siswa dan mahasiswa menempatkan diri dalam program studi akademik dan lingkup kegiatan non-akademik, yang menunjang perkembangannya dan semakin merealisasikan rencana masa depannya, atau melibatkan diri dalam lingkup suatu jabatan yang diharapkan cocok baginya dan memberikan kepuasan kepadanya. Kalau mula-mula berbagai kegiatan layanan penempatan mirip dengan apa yang dilakukan oleh orang yang bekerja di suatu Biro Penempatan Tenaga, dewasa ini kegiatan layanan ini jauh lebih kompleks dan mencakup unusur-unsur: (1) perencanaan masa depan; (2) pengambilan keputusan; (3) pemasukan ke salah satu jalur akademik, program kegiatan ekstrakurikuler, program persiapan prajabatan atau lingkup jabatan; (4) pemantapan dan reorientasi bila hal ini perlu (tindak lanjut atau follow-up); dan (5) pengumpulan data dalam rangka penelitian terhadap mereka yang sudah tamat sekolah (studi survai atau follo- up studies). Dalam literatur professional istilah perencanaan karier (career planning), layanan penempatan (placement service), tindak lanjut (follow-up), dan studi survai (follow-up studies) kerap disebut bersama-sama dipandang sebagai aspek-aspek dari suatu layanan bimbingan.

  1. 1.   Perncanaan

Perencanaan yang matang menuntut pemikiran tentang segala tujuan yang hendak dicapai dalam jangka waktu panjang (long-range goals), dan semua tujuan yang hendak dicapai dalam jangka waktu pendek (short-range goals). Hasil dari perencanaan adalah keputusan tentang sesuatu yang dipilih secara sadar, biasanya dari antara sejumlah alternatif yang dapat dipilih. Kebanyakan pilihan itu menyangkut tujuan jangka waktu pendek yang merupakan langkah penunjang agar mencapai tujuan jangka waktu panjang.

Membantu orang muda dalam merencanakan masa depan bagi konselor di instansi pendidikan merupakan tantangan karena berbagai alasan, yaitu: (a) harus mempertimbangkan taraf kematangan vokasional orang muda (vocational maturity); (b) harus dihindari bahaya yang terkandung dalam memberikan saran tentang pilihan yang sebaiknya dibuat, karena yang sebaiknya mungkin tidak dimengerti oleh orang muda, dia hanya mengikuti sarannya saja; (c) harus dihindari memberikan ramalan yang bersifat dogmatic tentang kemungkinan konseli akan berhasil atau gagal dalam mengambil suatu jalur; (d) harus dihindari memberikan kesan bahwa hanya terdapat satu jabatan yang cocok bagi konseli dan akan memuaskan baginya; (e) harus dijaga jangan sampai konseli membuat pilihan hanya atas dasar keinginan saja.

2. Tindak Lanjut dan Studi Survai

Baik tindak lanjut maupun studi survai merupakan kegiatan bimbingan yang dilakukan sesudah siswa dan mahasiswa memasuki jalur program studi akademik, program persiapan prajabatan atau jabatan tertentu. Pada tindak lanjut, konselor berwawancara dengan seseorang yang menghadap untuk membicarakan suatu masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pilihan yang telah dibuatnya. Namun perlu dipertimbangkan baik-baik apa konsekuensi yang timbul kalau pilihan lama ditinggalkan dan konseli berputar haluan. Kadang-kadang konsekuensi-konsekuensi dianggap terlalu berat, sehingga konseli memutuskan untuk berjalan terus dan berusaha sebaik mungkin (make the best of it).

Mengadakan studi survai termasuk kegiatan riset dengan tujuan memperoleh data tentang mereka yang sudah tamat dari institusi pendidikan tertentu, misalnya di SMA, tentang mereka yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi, dan di perguruan tinggi tentang mereka yang sudah terjun ke dunia kerja. Data mengenai penyebaran para lulusan dari masing-masing program studi di SMA di antara fakultas-fakultas di perguruan tinggi dapat membantu siswa yang belum tamat untuk memprakirakan besar kecilnya kemungkinan diterima di fakultas yang ingin dipilih. Demikian pula para mahasiswa di berbagai fakultas dapat memprakirakan besar kecilnya kemungkinan diterima dalam jabatan tertentu. Data ini, bersama ungkapan pengalaman dan pandangan, dicari dengan mengedarkan suatu angket di antara para tamatan, atau menyerahkan suatu format kepada wisudawan dan wisudawati dengan permintaan untuk diisi dan dikembalikan beberapa bulan kemudian. Namun, dari pengalaman banyak tenaga bimbingan yang pernah mengambil inisiatif untuk mengadakan studi survai dan merencanakannya dengan baik, ternyata studi survai itu sulit jalan karena beraneka kendala yang sukar diatasi, misalnya perpindahan alamat tidak diberitahukan, jumlah angket yang dikembalikan sangat sedikit, dan format kosong yang dibagikan pada waktu wisuda tidak ditanggapi sebagaimana diharpkan. Oleh karena itu, perlu dipikirkan bagaimana caranya memperoleh jaminan bahwa para tamatan akan berpartisipasi sepenuhnya dalam studi survai ini.

3. Pusat Bimbingan Karier

Suatu perkembangan baru di sejumlah kampus perguruan tinggi di Amerika Serikat adalah lahirnya pusat-pusat bimbingan karier yang dikenal dengan nama Career Planing and Placement Office, yang dikelola oleh staf tenaga professional bimbingan. Yang dikenal dahulu adalah Biro Penempatan Tenaga (placement office) sebagai unit tersendiri pada pusat bimbingan, yang bertugas menyalurkan permintaan tenaga kerja dari kalangan luar kampus kepada mahasiswa-mahasiswi di berbagai fakultas. Pusat Bimbingan Karier ini mempunyai banyak kemiripan dengan Laboratorium Bimbingan Karier (Guidance Career Center, Guidance Resource Center, Career Information Center), tetapi menunjukkan perbedaan juga. Yang pertama terutama terdapat di kampus-kampus perguruan tinggi dan mengelola suatu program bimbingan karier yang lebih luas. Yang kedua terutama melayani kalangan siswa di jenjang pendidikan menengah atas dan memusatkan perhatian pada perencanaan karier, termasuk di dalamnya pengolahan informasi karier, tetapi tidak menjadi perantara antara pihak pengusaha yang mencari tenaga kerja dan siswa yang mencari lowongan kerja.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka program bimbingan karier di Pusat Bimbingan Karier adalah sebagai berikut :

a)      Mengelola arsip permintaan mendapatkan tenaga kerja untuk lingkup jabatan tertentu dan mengedarkan pengumuman yang resmi kepada para mahasiswa tentang lowongan kerja itu.

b)      Mengelola arsip permohonan pelamaran dari para mahasiswa untuk diterima dalam lingkup jabatan tertentu dan mengedarkannya kepada pengusaha atau instansi yang membutuhkan tenaga kerja (personnel brief).

c)       Mengelola arsip permintaan memperoleh tenaga kerja part time sepanjang tahun atau untuk masa liburan panjang dan mengedarkan secara luas pengumuman kepada para mahasiswa tentang hal ini.

d)     Mengelola pertemuan-pertemuan kelompok bagi mahasiswa yang ingin memantapkan diri dalam perencanaan karier sesudah tamat, termasuk pemahaman diri dalam berbagai aspeknya dan studi tentang konstelasi kualifikasi yang harus dimiliki dalam memegang jabatan tertentu.

e)      Menyelenggarakan lokakarya-lokakarya dalam membuat lapangan pekerjaan (resume writing) dan mempersiapkan diri untuk wawancara seleksi dengan pihak yang membutuhkan tenaga kerja baru (employment interview, assessment interview).

f)       Mengumpulkan dan mengelola bahan informasi karier yang relevan (seperti pada laboratorium bimbingan karier).

g)      Mengelola program testing.

h)      Menyelenggarakan wawancara konseling individual.

i)        Mengadakan studi survai.

 

  1. C.    Konseling Karier

Untuk membantu orang muda merencanakan masa depannya, wawancara konseling secara individual sangatlah bermanfaat, lebih-lebih bagi orang yang harus mengambil keputusan penting. Bilamana siswa dan mahasiswa berpartisipasi aktif dalam program kegiatan bimbingan kelompok, konseling karier akan jauh lebih mudah bagi konselor dan konseli serta dapat memfokuskan pembicaraan pada masalah pemilihan di antara beberapa alternative. Namun, karena adanya beberapa alasan, orang muda mungkin belum siap sepenuhnya untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, dalam kenyataan, konselor akan berhadapan dengan konseli-konseli yang berada pada tingkat perkembangan karier yang berbeda-beda dan pada taraf kesiapan mental untuk mengambil keputusan yang berlain-lainan.

Dalam mengambil keputusan harus dipertimbangkan bobot pengaruh factor-faktor eksternal dan internal yang diketahui dan disadari, tetapi tetap perlu diakui kemungkinan akan timbul factor X yang tidak diketahui sekarang ini. Resiko akan mengalami kegagalan dapat diperkecil dengan memikirkan dan menetapkan beberapa pilihan dalam urutan prioritas pertama, kedua dan ketiga, yang ketiga-tiganya dianggap jatuh pada skala sangat sesuai sampai cukup sesuai, tentu saja harus ada kemungkinan untuk membuat lebih dari satu pilihan. Dalam menentukan pilihan-pilihan itu, unsure kompromi kerap sudah masuk, sejauh orang mencari jalan tengah antara yang paling diharapkan dan yang paling dimungkinkan, atau antara yang paling ideal dan yang paling realistic. Oleh karena itu, konselor sekolah yang melayani konseli yang sudah siap untuk membuat rencana yang mengandung resiko gagal sekecil mungkin.

 

D. Faktor-Faktor Pokok dalam Perkembangan Karier

Shertzer dan Stone (1981) mengutip definisi tentang perkembangan karier yang pernah dirumuskan oleh The National Vocational Guidance Association (1973) sebagai berikut: “Gabungan factor-faktor psikologis, sosiologis, pendidikan fisik, ekonomis, dan kesempatan, yang bersama-sama membentuk jabatan seseorang”. Gabungan ini mencakup beberapa factor internal dan eksternal. Di bawah ini diuraikan sejumlah factor internal dan eksternal.

 

1. Faktor-Faktor Internal

Faktor-faktor internal dapat dibedakan yang satu dengan yang lain, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan satu sama lain karena bersama-sama membentuk keunikan kepribadian seseorang. Sebagaimana dikatakan di atas, terjadi pada perubahan pada faktor internal itu, meskipun tidak dalam gradasi yang sama pada masing-masing factor. Faktor-faktor itu adalah sebagai berikut :

a)      Nilai-nilai kehidupan (values), yaitu ideal-ideal yang dikejar oleh seseorang di mana-mana dan kapan pun juga. Nilai-nilai menjadi pedoman dan pegangan dalam hidup sampai umur tua dan sangat menentukan bagigaya hidup seseorang.

b)      Taraf Intelegensi, yaitu taraf kemampuan untuk mencapai prestasi-prestasi yang di dalamnya berpikir memegang peranan. Menurut Binet, hakikat intelegensi adalah kemampuan untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis serta obyektif.

c)      Bakat khusus, yaitu kemampuan yang menonjol di suatu bidang usaha kognitif, bidang keterampilan, atau bidang kesenian. Sekali terbentuk, suatu bakat khusus menjadi bekal yang memungkinkan untuk memasuki berbagai bidang pekerjaan tertentu (fields of occupation) dan mencapai tingkatan lebih tinggi dalam suatu jabatan (levels of occupation).

d)     Minat, yaitu kecenderungan yang agak menetap pada seseorang untuk merasa tertarik pada suatu bidang tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan bidang itu.

e)      Sifat-sifat, yaitu ciri-ciri kepribadian yang bersama-sama memberikan corak khas pada seseorang.

f)       Pengetahuan, yaitu informasi yang dimiliki tentang bidang-bidang pekerjaan dan tentang diri sendiri.

g)      Keadaan jasmani, yaitu ciri-ciri fisik yang dimiliki seseorang. Untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu berlakulah berbagai persyaratan yang menyangkut ciri-ciri fisik.

 

2. Faktor-Faktor Eksternal

Faktor-faktor eksternal dapat dibedakan yang satu dengan yang lain, tetapi tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena bersama-sama menciptakan keseluruhan ruang gerak hidup. Faktor eksternal yang terkait adalah sebagai berikut :

a)      Masyarakat, yaitu lingkungan social budaya di mana orang muda dibesarkan. Lingkungan ini luas sekali dan berpengaruh besar terhadap pandangan dalam banyak hal yang dipegang teguh oleh setiap keluarga, yang pada gilirannya menampakkannya pada anak-anak.

b)      Keadaan social ekonomi negara atau daerah, yaiut laju pertumbuhan ekonomi yang lambat atau cepat; stratifikasi masyarakat dalam golongan social-ekonomi tinggi, tengah, dan rendah; serta diversifikasi masyarakat atas kelompok-kelompok yang terbuka atau tertutup bagi anggota dari kelompok lain.

c)      Status social-ekonomi keluarga, yaitu tingkat pendidikan orang tua, tinggi rendahnya pendapatan orang tua, jabatan ayah atau ayah dan ibu, daerah tempat tinggal, dan suku bangsa.

d)     Pengaruh dari seluruh anggota keluarga besar dan keluarga inti.

e)      Pendidikan sekolah, yaitu pandangan dan sikap yang dikomunikasikan kepada anak didik oleh staf petugas bimbingan dan tenaga pengajar mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam bekerja, tinggi rendahnya status social jabatan-jabatan, dan kecocokan jabatan tertentu untuk anak laki-laki atau anak perempuan.

f)       Pergaulan dengan teman-teman sebaya, yaitu beraneka pandangan dan variasi harapan tentang masa depan yang terungkap dalam pergaulan sehari-hari.

g)      Tuntutan yang melekat pada masing-masing jabatan dan pada setiap program studi atau latihan, yang mempersiapkan seseorang untuk diterima pada jabatan tertentu dan berhasil di dalamnya.

 

E. Implikasi-Implikasi bagi Bimbingan di Institusi Pendidikan

Beberapa implikasi bagi bimbingan karier di institusi pendidikan sebagai berikut :

  1. Perkembangan karier merupakan salah satu segi dari keseluruhan proses perkembangan orang muda dan pilihan yang menyangkut jabatan di masa depan berlangsung selaras dengan perkembangan karier.
  2. Pilihan jabatan tidak dilakukan sekali saja dan tidak definitive dengan sekali memilih saja. Orang muda membuat suatu rangkaian pilihan yang berkesinambungan dan bertahap, dari pilihan yang masih bersifat agak luas dengan memilih bidang bidang jabatan sampai jabatan di bidang tertentu.
  3. Konseling karier, yang berlangsung dalam pertemuan pribadi antara konselor dan konseli dan kerap terfokuskan pada permasalahan mengenai pilihan program studi dan atau pilihan jabatan, akan berlangsung lebih lancar bila orang muda telah disiapkan melalui bimbingan karier secara kelompok untuk menghadapi saat-saat harus dibuat suatu pilihan di antara beberapa alternatif.
  4. Pendekatan karier dan bimbingan karier tidak dapat dilepaskan dari gayahidup yang dicita-citakan oleh orang muda bagi dirinya sendiri (life style orientation). Karier yang akan dikembangkan oleh seseorang selama masa hidupnya merupakan sebagian dari keseluruhan gaya hidupnya (life style).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: