Konseling Diperluas

UPAYA PENCEGAHAN PEMAKAIAN MINUMAN KERAS

PADA ANAK DARI PECANDU ALKOHOL

MELALUI KONSELING KESEHATAN MENTAL

MODEL BLOOM-HELLER

 

Nova Ristya W.P. [*]

Abstrak

 

Salah satu masalah sosial yang paling serius dalam masyarakat Indonesia adalah kenakalan remaja yang dihasilkan oleh minuman keras. Banyak remaja Indonesia pada saat ini mengonsumsi minuman keras dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa faktor membawa mereka dalam keadaan tersebut. Antara lain faktor ketidakdewasaan, mental, pengaruh dari teman-teman mereka dan kehidupan buruk keluarga mereka. Terutama pada anak yang mempunyai orangtua seorang pacandu alkohol, karena hal itu bisa membuat anak tersebut meniru kebiasaan buruk orangtuanya dengan ikut mengonsumsi minuman keras. Itulah sebabnya solusi untuk mengatasi masalah sosial ini harus segera dilakukan. Salah satu dari begitu banyak cara yang harus dilakukan terhadap tujuan ini adalah untuk memberikan mereka konseling kesehatan mental dengan model Bloom-Heller. Konseling kesehatan mental ini dilaksanakan dengan memprioritaskan pendekatan pencegahan. Salah satu jenis pendekatan ini yaitu High Risk type prevention, konseling pendekatan ini diberikan kepada individu yang rentan atau memiliki resiko tinggi untuk mengalami suatu gangguan, seperti pada anak-anak yang orangtuanya adalah seorang pecandu minuman keras. Dengan adanya konseling ini setidaknya bisa memberikan perlindungan kepada anak dari lingkungan sekitarnya yang sudah rusakoleh alcohol, sehingga bisa mencegah mereka terjerumus ikut ke dalam hal tersebut.

 

Kata Kunci : Konseling Kesehatan Mental, Minuman Keras

 

 

PENDAHULUAN

Pembangunan, di mana pun, seperti yang berlangsung di Indonesia, selalu melahirkan kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemajuan melahirkan pula perubahan sosial yang terlihat jelas pada perubahan dan pergeseran nilai-nilai dari nilai-nilai (lama) yang dianut dan diyakini baik oleh masyarakat kepada nilai-nilai (baru) yang tidak jarang merugikan orang per orang dan masyarakat pada umumnya. Bentuk-bentuk dari perubahan dan pergeseran nilai tersebut adalah pergaulan bebas, penyalahgunaan narkotika dan kebiasaan meminum minuman beralkohoL atau minuman keras.

Dalam keputusan WHO no. 650 th. 1980 menyatakan bahwa mengkonsumsi minuman ber-alkohol dapat mengganggu kesehatan dan menimbulkan dampak negatif yang dapat mengalahkan dampak negatif mengkonsumsi opium dan kokain serta segala jenis narkoba lainnya. Bahaya yang diakibatkannya terlalu banyak untuk dihitung.

Sebuah fenomena baru yang makin lama makin menguat dalam kehidupan sosial masyarakat kita adalah kecanduan remaja terhadap minuman keras, minuman keras-sebagai’ minuman berakohol memabukkan adalah bagian dari bahan konsumsi yang makin dibutuhkan: oleh remaja. Status minuman berakohol sebagai barang dagangan/komoditi yang beredar bebas (lawful) dan lüas’selain tembakau, rokok dan bahan pelarut Organik lainnya makin menguatkan rangsangan kecanduan remaja terhadap minuman tersebut. Di toko-toko besar, pasar swalayan, ‘supérmaket, juga di warung-warung kecil, minuman keras banyak tersedia dan dijual secara bebas.

Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan ada kecenderungan bahwa jumlah remaja yang meminum minuman keras terus meningkat. Zakiah Daradjat, umpamanya mengatakan semakin banyak kedatangan remaja yang punya masalah dengan alkohol, dan demikian pula dengan Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO), Jakarta yang tiap hari kedatangan sekitar enam sampai delapan orang yang kecandungan alkohol (Lihat Republika 1 Oktober 1993: 8).

Fahmi Saifuddin, seorang dokter dan asisten Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, dalam seminar sehari tentang antisipasi penyalahgunaan narkotika, psikotropika, alkohol dan zat adiktif lainnya yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Ahli Jiwa Indonesia (IDAJI) tanggal 16 April 1994 di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia membenarkan fenomena ini. Dia menyatakan, bahwa dalam dua tahun terakhir jumlah penyalahgunaan narkotika, alkohol dan zat adiktif lainnya yang sebagian besar dilakukan anak remaja kian meningkat. yang disalahgunakan oleh kalangan remaja ini adalah opioida, kokain, ganja, sedativa hiptonika dan alkohol (Lihat Terbit, 18 April 1994: 5).

Dalam kesempatan seminar yang sama, Satya Joewana, Kepala Seksi Medik Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) yang juga Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa Universitas Atma Jaya, Jakarta, menyatakan bahwa hingga akhir tahun 1993 berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas bersangkutan, sebagian besar penyalahguna zat adiktif adalah pelajar, yaitu 54% pelajar SLTA, 24,5% mahasiswa, perguruan tinggi, 18% pelajar SLTP, dan 3,3% pelajar SD (Lihat Terbit, 18 April 1994: 5). Ini berarti bahwa penyalahguna zat-zat adiktif tersebut, termasuk alkohol, mencakup semua lapisan masyarakat yang berusia muda, terutama mereka yang duduk di bangku sekolah lanjutan.

 

MINUMAN KERAS

Minuman keras adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psiko aktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Dari sudut etimologi kosa kata khamr adalah bahasa Arab yang artinya menutupi. Menurut ahli bahasa, khamr disebut khamr karena ia menutupi akal pikiran. Oleh sebab itu, dari segi bahasa semua yang menutupi akal pikiran dapat disebut khamr (Ibn Rusyd, 1960: 471 – 472). Artinya, khamr adalah sejenis minuman yang mengandung unsur tertentu yang bila diminum unsur tersebut akan cepat bereaksi terhadap daya kerja otak, sehingga kemampuan berpikir otak menjadi berkurang atatu hilang.

Alkohol itu sendiri, secara umum, dipahami sebagai senyawa kimiawi yang memabukkan. “Secara kimiawi, zat alkohol beraneka macam, dan yang digunakan dalam minuman keras adalah etil alkohol (etanol), yaitu persenyawaan C2H5OH berupa cairan jernih, tidak berwarna, berbau enak, mudah terbakar, bercampur baik dengan air dan eter. Etanol dibuat antara lain dengan peragian pelbagai karbohidrat (Pudjaätmaka,’1989:070).

Faktor penyebab ramaja meminum minaman keras

Dalam psikologi perkembangan, remaja digambarkan berada dalam masa labil, yang di dalamnya terbentang masa penuh gejolak dan tekanan yang memancing mereka menemukan dunianya sendiri. Sering pula dikatakan, dalam masa ini remaja berusaha menemukan identitas dirinya. Identitas diri adalah suatu yang abstrak, yang sulit dirumuskan, kecuali sebagai keterangan tentang siapakah saya, apakah saya dan di mana tempat saya (who am I, what am I and were I belong to). Kondisi mental dan kepribadian yang labil inilah nantinya yang dapat mendorong remaja terlibat dalam kebiasaan meminum minuman keras sebagai pelepasan dan jalan keluar dari gejolak, kegoncangan dan segala bentuk tekanan yang mereka alami, sehingga mereka berani melanggar dan berperilaku menyimpang dari ketentuan-ketentuan dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Mulyana W. Kusuma (1988: 86) membenarkan bahwa perilaku meminum minumkan keras sebagai drinking behavior memang telah menjadi gejala sosial. Dalam hal ini dia membedakan dua tipe remaja pecandu alcohol (alkoholik), yaitu peminum yang kriminal dan yang bukan kriminal. Para remaja alkoholik yang bukan kriminal menikmati minuman keras pada saat mereka merasa harus memikul tanggung jawab berat dalam peranan-peranan konvensionalnya sebagai anak, kakak dan sebagainya.

Lebih lanjut, Thomas F .A. Plaut dan kawan-kawan, seperti dikutip oleh Soedjono Dirdjosisworo (1984: 109), tegas menyatakan alkoholisme adalah psikologis. Artinya, masalah ini dapat berhubungan dengan siapa saja, termasuk remaja. Apalagi remaja adalah suatu kelompok yang mengalami banyak masalah psikologis sesuai dengan tingkatan umurnya. Menurut mereka, kemungkinan peminum dan pemabuk dengan berbagai masalahnya mengalami perasaan nyaman dan kelegaan dengan minum alkohol. Atau ada di antara para pecandu pemabukan memiliki sifat-sifat pribadi yang apabila mendapat kesulitan dalam menghadapi dan menanggulangi depresi, frustrasi dan kegelisahan lari ke alkohol. Keluarga dan latar belakang sosialnya ikut pula memberikan andil terhadap perilaku meminum minuman keras pada remaja, karena orangtua sebuah keluarga berfungsi dan berperan dalam membentuk kepribadian awal anak.

Dampak Meminum Minuman Keras

Minuman keras tidak memberi manfaat apapun bagi kesehatan pada organ-organ tubuh dan berpengaruh buruk pada kesehatan mental. Minuman berakohol telah terbukti menjadi penyebab dari berbagai penyakit. Dari penyakit yang sederhana sampai.yang sangat berbahaya, seperti lever akan merusak jaringan hati (lever) gangguan penyerapan zat makanan dan mengakibatkan kurang gizi, meningkatkan tekanan darah, membuat denyut jantung menjadi tidak normal dan menurunkan nafsu seksual. Terhadap otak alkohol mengakibatkan hilangnya pengendalian diri, membuat sempoyongan, mengganggu kemampuan berbicara, menurunkan kemampuan intelektual, mengakibatkan hilangnya ingatan (block out), menyebabkan terjadinya amnesia, dan merusak jaringan saraf (Mohammad, 1993: 1). Kerusakan urat saraf atau yang disebut sebagai polyneuropathy lain juga berhubungan dengan sakit radang kantong perut dan pengerasan pada bagian hati (Dirdjosiswono, 1984: 110).

Kecuali beberapa jenis penyakit dan gangguan di atas, alkohol dapat pula menyebabkan gangguan cardiovascular dan terjadi kematian bila satu point (0,568 liter) etanol murni masuk ke dalam tubuh (Darwis, 1993:7). Alkohol ternyata juga dapat menyebabkan kemandulan/gangguan ketidaksuburan. Wanita yang kecanduan alkohol, tidak saja bisa mandul, melainkan juga menyebabkan anak yang dilahirkan cacat (Lihat Republika, 1 Oktober 1998).

Selain terhadap kesehatan fisik, minuman berakohol dapat pula mendatangkan gangguang kejiwaan dalam bentuk depresi, halusinasi, paranoid (terlalu curiga pada orang lain), dan sebagainya. Pengaruhnya terhadap kejiwaan seorang yang alkoholik dapat bersifat terlalu mementingkan diri sendiri, ketergantungan pada sesuatu atau orang lain, perasaan yang berlebihan mengenai kemampuan diri (perasaan megalomania), dan ketahanan yang rendah sekali terhadap ketagihan untuk minum alkohol (Dirdjosisworo, 1984: 111). Itu semua berarti kesehatan jiwa/mental orang yang mengkonsumsinya ikut terganggu. Namun demikian, bagi semua peminum alkohol, pengaruh terhadap kejiwaan, umumnya dapat dilihat dari jumlah per miligram alkohol dal;am per100 mililiter darah. Berikut disajikan tabel tentang kadar kandungan alcohol dalam darah dan pengaruhnya terhadap kejiwaan, lengkap dengan contoh jenis-jenis minuman kerasnya ( Susanto, 1993:8).

 

KONSELING KESEHATAN MENTAL MODEL BLOOM-HELLER

Konseling kesehatan mental berbeda dengan jenis pelayanan yang lain dalam beberapa hal :

  1. Agen konseling kesehatan mental ditempatkan di daerah yang mudah dijangkau oleh anggota masyarakat.
  2. Konseling kesehatan mental umumnya diarahkan untuk memfasilitiasi penegentasan masalah yang terjadi pada suatu komunitas.
  3. Staf professional dan para professional dilatih untuk mampu berinteraksi dengan anggota komuntias, termasuk bahasa yang digunakan anggota komunitas.
  4. Adanya tuntutan untuk menggunakan berbagai modalitas dalam konseling, termasuk pengembangan program yang inovatif.

Anggota tim konseling kesehatan mental berasal dari berbagai profesi, di antaranya psikiater, konselor, dan pekerja sosial. Konseling kesehatan mental dilaksanakan dengan memprioritaskan pendekatan pencegahan.

Bloom-Heller membagi pendekatan tindakan prevensi menjadi tiga, yakni pencegahan di masyarakat luas (community wide prevention), pencegahan type milestone (milestone type prevention), dan pencegahan type resiko tinggi (high risk type prevention) (Orford, 1992)

  1. Community wide prevention

Pada tahap pendekatan ini semua anggota masyarakat mendapatkan program pencegahan. Intervensi pencegahan pada tahap ini dilakukan baik melalui sekolah public, modifikasi persyaratan pelayanan public seperti pembubuhan flour pada air minum untuk mencegah gangguan pada gigi, mengembangkan suatu proyek untuk masyarakat tertentu. Sasaran dalam pendekatan ini mungkin besar (seluruh masyarakat satu daerah) atau kecil (masyarakat local atau tetangga), tetapi pada intinya tipe pendekatan ini menuntut seluruh anggota masyarakat untuk mendapatkan intervensi sehingga anggota masyarakat tercegah dari resiko mengalami suatu gangguan.

  1. Milestone type prevention

Prevensi tipe peringatan atau tanda-tanda (milestone) diarahkan komunitas yang sudah menunjukkan gejala-gejala akan mengalami gangguan tertentu dalam kehidupannya. Tindakan prevensi ini dapat dilakukan pada saat orang menjalani tahap perkembangan tertentu yang rawan dengan resiko munculnya gangguan, seperti masuk sekolah pertama kali, menikah di tahun pertama, pindah sekolah, pertama kali meninggalkan rumah, dipecat dari pekerjaannya, ditinggal mati oleh anak, istri, atau suaminya. Meski dapat melampaui tahapan-tahapan tersebut dalam kehidupannya, tetapi pendekatan pencegahan dalam tahap ini penting guna mencegah terjadinya gangguan yang lebih parah.

  1. High risk type prevention

Jenis prevensi resiko tinggi (high risk) diberikan kepada individu yang rentan atau memiliki resiko tinggi untuk mengalami suatu gangguan. Pendekatan ini contohnya diberikan kepada anak dari pecandu alcohol, individu yang mengalami masalah dengan obat-obatan, anak atau orang dewasa yang mengalami penyakit yang kronik, orang yang brusaha bertahan dari bencana alam seperti gempa bumi, kecelakaan perahu ataupun kapal terbang, dan lain-lain.

Implementasi Program Pencegahan

Di dalam mengimplementasikan program pencegahan pada suatu komunitas terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan. Dalton, Elias dan Wndersman (2001) menjelaskan beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mengimplementasikan program pencegahan, yakni:

  1. Lakukan pengamatan lingkungan
  2. Pastikan persetujuan yang kuat dari semua stakeholder
  3. Pastikan hubungan antara tujuan program pencegahan dengan misi inti dari komunitas tempat implementasi program
  4. Pertimbangan kerjasama dengan setting local
  5. Perkembangan yang kuat, kepemimpinan yang jelas
  6. Gambaran inovasi atau program dalam istilah yang sederhana, khususnya pada permulaan program
  7. Ketika program pencegahan diimplementasikan, pastikan implementasi prinsip dan elemen inti dari program tersebut
  8. Ukur implementasi program dan pencapaian tujuan program dari operasi seluruh program
  9. Carilah efek yang tidak diduga dari suatu program
  10. Rencanakan untuk melembagakan suatu program
  11. Kembangkan hubungan dengan program yang mirip pada setting yang lain.

Aplikasi Program Pencegahan

Aplikasi program pencegahan secara umum dapat dibagi menjadi dua, yakni program pencegahan yang beroerientasi pada individu (person centered) dan program pencegahan yang berorientasi di luar individu (beyond individuals). Berikut ini beberapa bentuk aplikasi kegiatan pencegahan dalam beberapa setting. Bentuk aplikasi pencegahan ini dibedakan berdasarkan pada orientasinya.

  1. Orientasi pada pribadi
    1. Program untuk masa kanak-kanak awal
    2. Program untuk masa kanak-kanak akhir
    3. Program untuk masa remaja
    4. Program untuk masa dewasa
    5. Orientasi di luar individu
      1. Sekolah
      2. Tempat kerja
      3. Komunitas Umum
      4. Intervensi pada tingkat kebijakan

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Konseling kesehatan mental dilaksanakan dengan memprioritaskan pendekatan pencegahan. Salah satu model pendekatan ini adalah Model Bloom-Heller. Salah satu jenis pendekatan ini yaitu High Risk type prevention, konseling pendekatan ini diberikan kepada individu yang rentan atau memiliki resiko tinggi untuk mengalami suatu gangguan, seperti pada anak-anak yang orangtuanya adalah seorang pecandu minuman keras.

Pada saat satu anggota keluarga terjerat oleh minuman keras, seluruh keluarga menjadi korban. Keluarga dan masyarakat di mana seseorang dibesarkan dapat mempengaruhi sikap orang tersebut dalam menjadi pecandu minuman keras. Kalau orangtua adalah pecandu minuman keras, maka anaknya cenderung menjadi peminum minuman keras pada masa dewasanya.

Anggota tim konseling kesehatan mental berasal dari berbagai profesi, diantaranya psikiater, konselor, dan pekerja sosial. Di lingkungan sekolah, para guru, siswa, administrator, dan orang tua merupakan stakeholder. Para stakeholder perlu dilibatkan dalam berdiskusi guna menentukan tujuan dari program pencegahan yang direncanakan. Denagn adanya tujuan yang mereka pahami, mereka akan memiliki dasar untuk membuat keputusan.

 

Saran

Pihak kedokteran memang tidak akan lepas dari para pemakai minuman keras, jika jasmani orang tersebut sudah sedemikian bergantung kepada rangsangan alkohol, ia tidak dapat menolong dirinya sendiri tanpa pertolongan seorang dokter, sedangkan konselor-konselor lebih efektif dalam menghidupkan semangat yang baru, dan meyakinkan konseli dalam bentuk pencegahan kepada mereka yang rentan terjerumus dengan menjadi pecandu alkohol. Seharusnya keluarga yang menjadi tempat pendidikan pertama anak lebih meningkatkan bagaimana mengajarkan pendidikan Agama sejak dini,p embinaan kehidupan rumah tangga yang harmonis dengan penuh perhatian dan kasih sayang, menjalin komunikasi yang konstruktif antara orang tua dan anak, orang tua memberikan teladan yang baik kepada anak-anak, serta diberikan pengetahuan sedini mungkin tentang minuman keras, jenis, dan dampak negatifnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Achir, Yaumil Agoes. 1991. “Meningkatkan Hubungan Orangtua dengan Remaja”, dalam Sanusi (ed.). Mengenal dan Memahami Masalah Remaja, Jakarta : Pustaka Antara PT.

Dalton, J.H., Elias, M.J.,& Wandersman, A. 2001. Community Psychology: Linking Individuals and Communities. Stamford: Wadsworth Thomson Learning.

Darwis, A.Azis. 1993. “Alkohol dan Minuman yang Mengandung Alkohol”. Makalah pada Muzakarah Nasional tentang Alkohol dalam Minuman yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, di Jakarta tanggal 30 September 1993.

Dirdjosisworo¿ Soedjono. 1984. Alkoholisme Paparan Hukum dan Kriminologi. Bandung, Remadja Karya CV.

Duffy, K.G.,& Wong, F.Y. 1996. Community Psychology. Boston: Allyn and Bacon.

http://www.mail-archive.com/i-kan-konsel@xc.org/msg00067.html. yang diakses tanggal 9 Mei 2010.

Orford, J. 1992. Community Psychology: Theory and Practice. Chicester: Jhon Wiley& Sons.

Susanto, Tri. 1993. “Alkoholisme Perlu Perhatian yang Serius”, Makalah pada Muzakarah Nasional tentang Alkohol dalam Minuman, yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di Jakarta, tanggal 30 September 1993.


[*] Nova Ristya W.P. adalah mahasiswa jurusan BK UNNES.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: